Tampilkan postingan dengan label Udar Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Udar Rasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2018

Bersepeda


“BESOK naik sepeda sampai Indomaret yang samping gang itu ya, Abi,” ajak Mas Dhaya. Jarak tempuh dari rumah mertua saya ke tempat yang ia maksud sekira 1,7 kilometer.
“Abi bisa pingsan, Nak. Itu terlalu jauh,” jawab saya.
Ia heran. “Kok pingsan?” tanyanya.

Selasa, 24 Juli 2018

Olahraga


SEMUA perempuan di ruang rapat berteriak histeris segera setelah saya memakai kaus polo pesanan. Kaus seragam. Warnanya merah. Laras dengan warna lembaga kami. Kaus itu terasa pas di tubuh saya. Maklum, saya memesan kaus dengan ukuran XS. Ukuran terkecil di antara kawan-kawan.

Ketika memakai kaus itu, otot dada saya yang tak lagi terlatih menjadi sedikit menonjol. Perut tampak ramping. Jelas membikin histeria, bukan?

Senin, 16 Juli 2018

Kuasa Ramalan


SAMPEAN pernah iseng membaca ramalan bintang?

Ya, zodiak. Itu lingkaran khayal di langit yang berpusat di ekliptika. Ada 12 tanda perbintangan, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, dan Pises. Saya berbintang akuarius.

Waktu kecil, saya sering membaca ramalan bintang. Ketika ramalannya jelek, saya jadi deg-degan satu-dua hari. Kadang, saya menemu ramalan yang ajaib bagi saya waktu itu. Misal, “Asmara: pacar bikin Anda marah-marah.” Seingat saya, sampai dengan kelas 2 sekolah dasar, meski sudah mengenal perempuan cantik, saya masih asing dengan istilah pacar. Maka, tentu saya jadi berpikir keras, apakah gerangan pacar itu hingga ia mampu membikin saya marah-marah? Lagi-lagi, saya deg-degan dibuatnya.

Rabu, 11 Juli 2018

Gila


QAIS jadi majenun. Ia terpisah dari Layla. Semua mafhum kecuali raja. Ia penasaran. Secantik apa Layla gerangan hingga Qais tergila-gila dan sungguh-sungguh menggila.

Syahdan, Layla dihadirkan. Raja menilai, “Ternyata kecantikanmu biasa saja.”

“Itu karena,” jawab Layla, “matamu bukan mata Qais.”

Sabtu, 07 Juli 2018

Kematian


KEMATIAN itu dekat. Memahami itu, nyatanya, tak lantas membuat kita gentar dan bersiap. Sebagian orang mungkin telah cukup percaya diri dengan amalnya. Mereka telah berhitung dan meyakini dapat memborong banyak kaveling di surga. Tiap hari, mereka akan ditemani oleh puluhan bidadari molek dan (selalu) perawan. Impian khas kebanyakan lelaki.

Entahlah. Saya selalu berdebar ketika mengingat kematian. Dunia yang sekadar permainan dan tipu daya memang memuakkan. Namun, siapa yang tak gamang menghadapi ketakpastian? Harap-harap (seraya) cemas. Seperti mau menyatakan cinta.

Minggu, 01 Juli 2018

Rupanya, Libur T’lah Usai...


MAS DHAYA terlibat percakapan dengan ummi-nya. Kemarin sore. Saya lèyèhan di lantai. Di sampingnya.

“Besok, kalau aku (me)nangis, pulangnya besoknya lagi . Pagi sekali,” katanya.

“Alasan,” komentar ummi-nya, “terus kamu berencana mau (me)nangis besok?”

Mas Dhaya tertawa. Jawabnya, “Iya. Aku masih kangen sama abi.”

Hèlèh, kamu gêmbèng kåyåk abi-mu,” ejek ummi-nya.

Ia beringsut memeluk saya. Erat. Saya cium rambutnya.

Sabtu, 30 Juni 2018

Surat Terbuka untuk Bu Khofifah


APA kabar, Bu?

Senang ya Bu, akhirnya njênêngan dan Mas Emil—saya memanggilnya Mas Emil saja ya, Bu? Biar gayêng. Seperti moto njênêngan saat berkampanye itu lo, guyub kerjåné, gayêng rakyaté—memenangi Pilkada Jawa Timur melalui suara terbanyak. Saya ikut senang meski tak sampai menangis haru seperti njênêngan. Ndak åpå-åpå tå, Bu?

Kalau dipikir-pikir, saya ini termasuk fan njênêngan lo. Buktinya, saya membaca berita-berita tentang njênêngan. Bersumber dari berita-berita itu pula, saya jadi tahu, setidaknya 3 momen terkait jabatan yang membuat njênêngan menangis.

Selasa, 12 Juni 2018

Ulang Tahun


SEPERTI biasa. Tempo hari, menjelang subuh, ia bangun. Yang tak biasa, ia membuka kelopak mata dan seketika bertanya, “Kapan Mas Dhaya ulang tahun, Abi?”

“Tulat, Nak,“ jawab saya.

“Harus ada roti, tiup lilin, kado, terus semua mengucap selamatkah?” tanyanya. Lengkap dengan aksen Melayu. Ah, ia terlalu banyak menonton Upin-Ipin.

Saya mengeloninya. Saya jawab, “Tidak. Abi merayakan ulang tahun dalam sunyi. Mas Dhaya perlu begitu juga. Bermenung, Nak.”

“Bermenung?” gumamnya.

Senin, 11 Juni 2018

Namira, Kebersihan, dan Sate Babat


SELAMA Ramadan di Lamongan, saya dan kawan saya, Ariyo, kerap berburu takjil di Masjid Namira. Senin sampai dengan Kamis. Jumat, ia pulang ke Bojonegoro. Saat ia pulang dan saya tak balik ke Mojokerto, saya salat tarawih di Masjid al-Azhar, Muhammadiyah.

Ariyo selalu menjemput saya. Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan, biasanya saya telah menunggunya di depan kos dengan gaya itu-itu saja: berkacamata, bersarung, berkaus, bertas selempang, dan bersandal jepit. Itu bisa jadi simbolisasi ustaz muda yang sedikit nakal dan banyak akal. Tipikal lelaki yang digandrungi perempuan. Halah, gombal!

Sabtu, 09 Juni 2018

Mari Tertawa Sesuai KBBI


SEJAK 7 Juni 2018, kemarin lusa, saya kembali bertugas di Tuban. Tak terasa, 6 bulan saya melaksanakan tugas perbantuan di Lamongan. Rasanya, baru minggu lalu saya berkeliling kota. Memetakan wilayah tugas. Sepertinya baru beberapa hari ini saya ajek membeli segå boranan di depan Hotel Elresass sepulang kerja dan berbincang dengan penjualnya sebelum balik ke indekos.

Selasa, 05 Juni 2018

Menjaga Bangsa


TUHAN menyediakan banyak kejutan dalam hidup. Juga pagi tadi. Masih dengan mata riyip-riyip dengan kesadaran yang belum genap, Mas Dhaya berkata, “Aku belum pernah masuk gereja, Abi. Besok Mas Dhaya diajak lihat gereja, ya?”

Saya tertegun.

Tuhan... oh ya, saya lebih senang menyebutnya Gusti Allah, baik Allah dengan lafal a maupun å. Dalam aras tertentu, bagi saya, keduanya sama belaka: perangkat bahasa yang digunakan oleh manusia, sebagai wujud ikhtiar saya kira, untuk menyebut Ia yang sejatinya tak dapat dibayangkan apalagi diringkus dalam definisi. Ia yang hanya dapat dijangkau oleh iman dan kerinduan. Nama atributif, dalam hal ini, menjadi penting. Untuk memaknai pengalaman religius personal, di antaranya.

Minggu, 03 Juni 2018

Dosa


MBAH penjual Bobo meninggal. Kecelakaan. Tukang cukur yang mengabarkannya. Saya menyimak dan tak berkomentar kecuali ber-istirja’.

Setelahnya, Mas Dhaya yang berkomentar. Meski sambil lalu. Katanya, “Kok tumben meninggal?”

Saya agak kaget mendengarnya. Ia memahami kematian. Ia juga pernah menyaksikannya. Kosakatanya kaya. Struktur bahasanya cukup bagus. Namun, tumben meninggal itu hal ganjil. Mati itu bukan tindakan yang biasanya tak mau lalu tetiba mau.

Namun, ia tak mungkin hendak bertanya mengenai sebab kematian. Untuk maksud itu, ia biasanya bertanya, “Kok tiba-tiba meninggal. Sakit ?” Saya menyangka, melalui kalimat tak biasa itu, Gusti Allah mengingatkan saya bahwa kita pasti menemu kematian. Kapan pun.

Saya terkelu.

Sabtu, 02 Juni 2018

Yang Muda yang (Membayangkan) Bercinta


KAWAN saya, sebut saja namanya Kliwon—sesuai nama samarannya, ia lahir dengan weton Kliwon—bercerita bahwa ia mengintip orang tuanya bercinta. Saya penasaran. Bagaimana bisa?

Mau bêngi, paling dikirå aku wis turu. Bapak-ibu mlêbu kamar têrus lawangé dikunci. Biasané ora. Pênasaran. Dakincêng saka bolongan kunci,” jelasnya. Tentu saja, kawan saya itu lalu menceritakan adegan demi adegan berikutnya. Ah, sudah, biar saya simpan sendiri. Daripada sampean batal puasa karenanya.

Rabu, 30 Mei 2018

Sabar


MASIH ingat, siapa yang pernah mengajarkan sikap sabar kepada sampean?

Bagi saya, salah satunya adalah bapak. Melalui ia, saya belajar bersabar dalam menerima apa pun yang diberikan oleh Gusti Allah. Narimå ing pandum secara lêgå, lilå, dan ikhlas.

Sejak menikah, bapak tinggal di rumah mertua. Bapak dan mama saya belum punya rumah sendiri. Rumah yang dibeli menggunakan uang hasil jerih payah sendiri. Bukan rumah warisan. Mereka pasangan muda. Mama, 26 tahun usianya. Bapak 2 tahun lebih tua.

Selasa, 22 Mei 2018

Tolak


NAMANYA Tolak Ani. Dia kawan saya. Entah mengapa, tetiba saya teringat padanya. Dia perempuan baik. Sangat baik, malah. Dia menikah dengan lelaki yang sama baiknya dan punya anak-anak yang baik. Saya mengenalnya sembilan tahun lalu saat saya bertugas di Banyuputih, Situbondo.

Seingat saya, dia lahir dan diberi nama Ani oleh orang tuanya. Ani kecil sering sakit-sakitan. Maka, orang tuanya menambahkan kata tolak di depan namanya. Sejak itu, dia bernama Tolak Ani. Dan, dia tak sakit-sakitan lagi.

Saya tentu tak percaya kesehatannya membaik karena penambahan kata tolak. Itu hanya kepercayaan masyarakat setempat saja. Akibat mitos itu, ada banyak orang bernama Tolak. Dan, semakin bertambah sedikitnya dua kali lipat. Sebab, orang tua serta merta akan kehilangan namanya dan disebut dengan nama anaknya. Pa’(na) Tolak. Bapaknya Tolak.

Kamis, 17 Mei 2018

Puasa


Nèk lêmu, iså tênang nèk kêtêmu wång tuwå,” kata Ariyo, “wång tuwå ora mikir rênå- rênå. ‘Anakku kok kuru, åpå (o)ra tau di(we)nèhi mangan karo bojoné?’”

Siang itu, kami sedang makan di kantor. Jemuwah Kliwon. Dua puluh April 2018. Obrolan itu bumbunya.

Saya kisahkan kepada Ariyo, kawan saya, bahwa ada orang tua yang justru tak senang jika anaknya gemuk, karena: (1) khawatir anaknya berisiko menderita sakit tertentu, semisal jantung, hipertensi, atau kolesterol, dan (2) merasa bahwa mereka tak berhasil mendidik anaknya menjadi manusia yang asketik.

Bapakku, pas pirså nèk aku lêmu, ngêndikå, Kowé kok bêngêp kabèh ngunu, Feb. Kowé rak ora åpå-åpå tå?’” cerita saya.

Begitulah. Di Jawa, tubuh memang mendapat perhatian khusus. Pewayangan, cerminannya. Dunia bayang-bayang. Idealisasi kehidupan manusia Jawa.

Selasa, 15 Mei 2018

Bom Surabaya


SAYA tak takut kepada bom. Sama sekali. Itu hanya semacam mercon impling, petasan cabe atau ceplik, yang lebih besar saja. Namun, saya takut kepada kebencian.

Minggu pagi, 4 hari menjelang Ramadan, seperti diwartakan media, 3 bom bunuh diri meledak di 3 gereja di Surabaya. Diduga, bom itu diledakkan oleh keluarga yang terdiri atas bapak, ibu, 2 anak lelaki (18 dan 16 tahun), dan 2 anak perempuan (12 dan 9 tahun). Piyé mereka itu, Minggu wayahe siram-siram tanduran utåwå silaturahim ke rumah kerabat atau kawan-kawan, malah dolanan bom.

Selasa, 08 Mei 2018

Dinosaurus, Roti Bakar, dan Guling


DUA puluh sembilan April 2018. Saya sedang membaca. Mas Dhaya sedang mewarnai robot, Optimus Prime, gambaran saya. Tetiba, ia teringat sesuatu.

“Abi masih seneng lihat foto Mas Dhaya di kos-kos Abi?” tanyanya. Ia menyebut indekos sebagai kos-kosan dengan pelesapan sufiks -an.

Saya mengiakan. Ia bergegas mencari sesuatu di lemarinya.

Sembari menyerahkan selembar kertas bekas, ia berkata, “Ini dikasih gambar sama Mas Dhaya. Biar Abi ingat (Mas Dhaya).”

Ada gambar bulat-bulat di kertas itu. Tertulis namanya juga. Katanya, itu gambar dinosaurus dan telur dinosaurus. Saya memujinya. Meski, sejujurnya, saat seusianya, saya dapat menggambar hewan dan manusia jauh lebih baik. Saya merasa wis kåyå Pak Tino Sidin1 . Semua-muanya dinilai bagus. Eh, sampean rak weruh Pak Tino Sidin ?

Minggu, 06 Mei 2018

Hanya Mi Instan, Bukan yang Lain


SYAHDAN, seorang lelaki bercanda dengan anaknya. Kamar berukuran 3 x 4 meter itu memantulkan tawa mereka.

Sebagian rambut lelaki itu telah memutih. Sepertiga abad lebih umurnya. Mestinya, rambutnya tak secepat itu berubah warna. Ia ingat, perubahan itu mulai tampak saat usianya 27 tahun. Satu-dua saja, kala itu. Bertambah satu-dua lagi saat ia berusia 30-31 tahun. Mungkin, itu seturut tanggung jawabnya yang bertambah.

Memasuki usia 34 tahun, rambut putih itu semakin banyak. Tak hanya di kepala, tapi juga di sebagian besar hidung dan 5 helai di janggutnya. Suatu ketika, seorang kawannya, Yogi namanya, berkomentar, “Cahayanya tambah, Om.”

Ia tersenyum. Cahaya. “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya,” demikian sabda Kangjeng Nabi.1 Maka, sekali lagi ia tersenyum.

Selasa, 01 Mei 2018

Dari Soal Jembatan Widang Sampai Hari Buruh


SEHARI sebelum peringatan Hari Buruh hari ini. Pagi. Lebih kurang pukul 05.25 WIB. Kaum buruh, kaum marhaen, rakyat pekerja, kaum miskin kota, proletar, atau apa pun sebutannya sudah bergelut dengan kemacetan, bising dan sesaknya jalanan, dan segala rupa ketakadilan. Mungkin, usai salat subuh, di antara mereka ada yang memacu adrenalin dengan menyelinap agar tak bertemu pemilik indekos dan ditagih uang sewa. Di tempat lain, diam-diam, pemimpin perusahaan, borjuis, menyeruput kopi. Melihat sekilas ke luar. Mobil mewahnya sudah disiapkan oleh sopirnya sejak tadi. Rencananya, ia akan berlibur bersama dengan keluarganya. Memacetkan jalan bersama dengan buruh-buruhnya yang lain yang bermental borjuis. Alah, apa salahnya menikmati hidup?