Tampilkan postingan dengan label Memorabilia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memorabilia. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2018

Kuasa Ramalan


SAMPEAN pernah iseng membaca ramalan bintang?

Ya, zodiak. Itu lingkaran khayal di langit yang berpusat di ekliptika. Ada 12 tanda perbintangan, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, dan Pises. Saya berbintang akuarius.

Waktu kecil, saya sering membaca ramalan bintang. Ketika ramalannya jelek, saya jadi deg-degan satu-dua hari. Kadang, saya menemu ramalan yang ajaib bagi saya waktu itu. Misal, “Asmara: pacar bikin Anda marah-marah.” Seingat saya, sampai dengan kelas 2 sekolah dasar, meski sudah mengenal perempuan cantik, saya masih asing dengan istilah pacar. Maka, tentu saya jadi berpikir keras, apakah gerangan pacar itu hingga ia mampu membikin saya marah-marah? Lagi-lagi, saya deg-degan dibuatnya.

Selasa, 22 Mei 2018

Tolak


NAMANYA Tolak Ani. Dia kawan saya. Entah mengapa, tetiba saya teringat padanya. Dia perempuan baik. Sangat baik, malah. Dia menikah dengan lelaki yang sama baiknya dan punya anak-anak yang baik. Saya mengenalnya sembilan tahun lalu saat saya bertugas di Banyuputih, Situbondo.

Seingat saya, dia lahir dan diberi nama Ani oleh orang tuanya. Ani kecil sering sakit-sakitan. Maka, orang tuanya menambahkan kata tolak di depan namanya. Sejak itu, dia bernama Tolak Ani. Dan, dia tak sakit-sakitan lagi.

Saya tentu tak percaya kesehatannya membaik karena penambahan kata tolak. Itu hanya kepercayaan masyarakat setempat saja. Akibat mitos itu, ada banyak orang bernama Tolak. Dan, semakin bertambah sedikitnya dua kali lipat. Sebab, orang tua serta merta akan kehilangan namanya dan disebut dengan nama anaknya. Pa’(na) Tolak. Bapaknya Tolak.

Kamis, 17 Mei 2018

Puasa


Nèk lêmu, iså tênang nèk kêtêmu wång tuwå,” kata Ariyo, “wång tuwå ora mikir rênå- rênå. ‘Anakku kok kuru, åpå (o)ra tau di(we)nèhi mangan karo bojoné?’”

Siang itu, kami sedang makan di kantor. Jemuwah Kliwon. Dua puluh April 2018. Obrolan itu bumbunya.

Saya kisahkan kepada Ariyo, kawan saya, bahwa ada orang tua yang justru tak senang jika anaknya gemuk, karena: (1) khawatir anaknya berisiko menderita sakit tertentu, semisal jantung, hipertensi, atau kolesterol, dan (2) merasa bahwa mereka tak berhasil mendidik anaknya menjadi manusia yang asketik.

Bapakku, pas pirså nèk aku lêmu, ngêndikå, Kowé kok bêngêp kabèh ngunu, Feb. Kowé rak ora åpå-åpå tå?’” cerita saya.

Begitulah. Di Jawa, tubuh memang mendapat perhatian khusus. Pewayangan, cerminannya. Dunia bayang-bayang. Idealisasi kehidupan manusia Jawa.

Selasa, 08 Mei 2018

Dinosaurus, Roti Bakar, dan Guling


DUA puluh sembilan April 2018. Saya sedang membaca. Mas Dhaya sedang mewarnai robot, Optimus Prime, gambaran saya. Tetiba, ia teringat sesuatu.

“Abi masih seneng lihat foto Mas Dhaya di kos-kos Abi?” tanyanya. Ia menyebut indekos sebagai kos-kosan dengan pelesapan sufiks -an.

Saya mengiakan. Ia bergegas mencari sesuatu di lemarinya.

Sembari menyerahkan selembar kertas bekas, ia berkata, “Ini dikasih gambar sama Mas Dhaya. Biar Abi ingat (Mas Dhaya).”

Ada gambar bulat-bulat di kertas itu. Tertulis namanya juga. Katanya, itu gambar dinosaurus dan telur dinosaurus. Saya memujinya. Meski, sejujurnya, saat seusianya, saya dapat menggambar hewan dan manusia jauh lebih baik. Saya merasa wis kåyå Pak Tino Sidin1 . Semua-muanya dinilai bagus. Eh, sampean rak weruh Pak Tino Sidin ?

Minggu, 06 Mei 2018

Hanya Mi Instan, Bukan yang Lain


SYAHDAN, seorang lelaki bercanda dengan anaknya. Kamar berukuran 3 x 4 meter itu memantulkan tawa mereka.

Sebagian rambut lelaki itu telah memutih. Sepertiga abad lebih umurnya. Mestinya, rambutnya tak secepat itu berubah warna. Ia ingat, perubahan itu mulai tampak saat usianya 27 tahun. Satu-dua saja, kala itu. Bertambah satu-dua lagi saat ia berusia 30-31 tahun. Mungkin, itu seturut tanggung jawabnya yang bertambah.

Memasuki usia 34 tahun, rambut putih itu semakin banyak. Tak hanya di kepala, tapi juga di sebagian besar hidung dan 5 helai di janggutnya. Suatu ketika, seorang kawannya, Yogi namanya, berkomentar, “Cahayanya tambah, Om.”

Ia tersenyum. Cahaya. “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya,” demikian sabda Kangjeng Nabi.1 Maka, sekali lagi ia tersenyum.

Minggu, 22 April 2018

Jangan Salah, Semua Fiktif Belaka. Juga Tulisan Ini.


Kamis lalu. Pukul 03.00 WIB. Ponsel saya berdering. Saya terima.

Bangun, Abi. Sahur. Abi sahur sama apa?” tanya Mas Dhaya di ujung sana.

Saya agak kaget. Jika saya sedang berada di rumah, ia memang biasa ikut bangun saat saya sahur. Sejak belum genap setahun usianya. Namun, ia jarang bangun sepagi itu, lebih-lebih membangunkan saya, ketika saya tak sedang berada di rumah.

Kemarin lusa, ia melakukan hal serupa. Ia telepon saya. Pagi-pagi. “Bangun, Abi. Katanya mau jalan-jalan,” katanya, “Mas Dhaya agak panas, Abi. Flu. Tapi, nggak apa-apa kok. Insya Allah cepat sembuh.

Saya belum menanggapi. Ia sudah melanjutkan, “Sudah dulu ya, Abi. Boleh dimatikan, Abi? Aku sayang sama Abi.

Telepon ditutup. Singkat. Padat. Seperti mimpi saja.

Senin, 26 Maret 2018

Berjalanmu, Kepribadianmu?


SAMPEAN pernah memperhatikan cara sampean atau orang lain berjalan? Semasa sekolah dulu, kawan-kawan saya senang sekali memperhatikan orang lain berjalan. Lawan jenisnya, tentu saja. Kami menyebutnya sebagai objek estetik. Tak hanya memperhatikan, kawan-kawan juga senang menggoda. Contohnya, dengan berucap “kiri, kiri, kiri, kiri,” seperti aba-aba dalam baris-berbaris. Saya, meski tak ikut menggoda tapi membiarkan perbuatan itu terjadi, sama saja turut mendukungnya. Perilaku macam itu dapat masuk kategori kekerasan. Sekurang-kurangnya perundungan. Jangan ditiru. Lagipula, itu sama sekali berbeda dengan memperhatikan.

Senin, 19 Maret 2018

Tuhan dan Penyetan Lamongan


PENYETAN* atau lalapan. Itulah makanan yang paling mudah ditemukan di Lamongan, selain soto dan sega boranan tentu saja. Sebenarnya ada banyak menu penyetan: bebek, ayam, lele, mujair, burung dara, telur, dll., tapi beberapa hari terakhir, saya memilih tempe penyet. Murah meriah. Sekira Rp6 ribu. Cocok untuk kantong saya, anak kos yang sedang berhemat demi membeli sebongkah berlian.


Salah satu warung penyetan di Lamongan

Omong-omong, ada yang tahu, siapa penemu tempe? Kita ini, sering berbangga-bangga karena tahu penemu bohlam, pencetus teori relativitas, dan sebagainya yang serbaasing itu. Namun, kita tak tahu—apalagi bangga—tentang kekhasan sendiri. Ya, tempe itu contohnya.

Tempe dikenal sebagai kekayaan kuliner di Jawa sejak zaman dulu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa istilah tempe tersua di Serat Centhini, sebuah karya ensiklopedis tentang Jawa yang diduga ditulis oleh beberapa orang atas perintah Raja Surakarta. Berdasarkan sumber tersebut, artinya tempe telah dikonsumsi oleh rakyat kebanyakan sekira Abad XVI. Sumber lain menyebutkan bahwa tempe telah dikenal sejak zaman Majapahit.