Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2018

Bersepeda


“BESOK naik sepeda sampai Indomaret yang samping gang itu ya, Abi,” ajak Mas Dhaya. Jarak tempuh dari rumah mertua saya ke tempat yang ia maksud sekira 1,7 kilometer.
“Abi bisa pingsan, Nak. Itu terlalu jauh,” jawab saya.
Ia heran. “Kok pingsan?” tanyanya.

Minggu, 01 Juli 2018

Rupanya, Libur T’lah Usai...


MAS DHAYA terlibat percakapan dengan ummi-nya. Kemarin sore. Saya lèyèhan di lantai. Di sampingnya.

“Besok, kalau aku (me)nangis, pulangnya besoknya lagi . Pagi sekali,” katanya.

“Alasan,” komentar ummi-nya, “terus kamu berencana mau (me)nangis besok?”

Mas Dhaya tertawa. Jawabnya, “Iya. Aku masih kangen sama abi.”

Hèlèh, kamu gêmbèng kåyåk abi-mu,” ejek ummi-nya.

Ia beringsut memeluk saya. Erat. Saya cium rambutnya.

Selasa, 12 Juni 2018

Ulang Tahun


SEPERTI biasa. Tempo hari, menjelang subuh, ia bangun. Yang tak biasa, ia membuka kelopak mata dan seketika bertanya, “Kapan Mas Dhaya ulang tahun, Abi?”

“Tulat, Nak,“ jawab saya.

“Harus ada roti, tiup lilin, kado, terus semua mengucap selamatkah?” tanyanya. Lengkap dengan aksen Melayu. Ah, ia terlalu banyak menonton Upin-Ipin.

Saya mengeloninya. Saya jawab, “Tidak. Abi merayakan ulang tahun dalam sunyi. Mas Dhaya perlu begitu juga. Bermenung, Nak.”

“Bermenung?” gumamnya.

Sabtu, 09 Juni 2018

Mari Tertawa Sesuai KBBI


SEJAK 7 Juni 2018, kemarin lusa, saya kembali bertugas di Tuban. Tak terasa, 6 bulan saya melaksanakan tugas perbantuan di Lamongan. Rasanya, baru minggu lalu saya berkeliling kota. Memetakan wilayah tugas. Sepertinya baru beberapa hari ini saya ajek membeli segå boranan di depan Hotel Elresass sepulang kerja dan berbincang dengan penjualnya sebelum balik ke indekos.

Selasa, 05 Juni 2018

Menjaga Bangsa


TUHAN menyediakan banyak kejutan dalam hidup. Juga pagi tadi. Masih dengan mata riyip-riyip dengan kesadaran yang belum genap, Mas Dhaya berkata, “Aku belum pernah masuk gereja, Abi. Besok Mas Dhaya diajak lihat gereja, ya?”

Saya tertegun.

Tuhan... oh ya, saya lebih senang menyebutnya Gusti Allah, baik Allah dengan lafal a maupun å. Dalam aras tertentu, bagi saya, keduanya sama belaka: perangkat bahasa yang digunakan oleh manusia, sebagai wujud ikhtiar saya kira, untuk menyebut Ia yang sejatinya tak dapat dibayangkan apalagi diringkus dalam definisi. Ia yang hanya dapat dijangkau oleh iman dan kerinduan. Nama atributif, dalam hal ini, menjadi penting. Untuk memaknai pengalaman religius personal, di antaranya.

Minggu, 03 Juni 2018

Dosa


MBAH penjual Bobo meninggal. Kecelakaan. Tukang cukur yang mengabarkannya. Saya menyimak dan tak berkomentar kecuali ber-istirja’.

Setelahnya, Mas Dhaya yang berkomentar. Meski sambil lalu. Katanya, “Kok tumben meninggal?”

Saya agak kaget mendengarnya. Ia memahami kematian. Ia juga pernah menyaksikannya. Kosakatanya kaya. Struktur bahasanya cukup bagus. Namun, tumben meninggal itu hal ganjil. Mati itu bukan tindakan yang biasanya tak mau lalu tetiba mau.

Namun, ia tak mungkin hendak bertanya mengenai sebab kematian. Untuk maksud itu, ia biasanya bertanya, “Kok tiba-tiba meninggal. Sakit ?” Saya menyangka, melalui kalimat tak biasa itu, Gusti Allah mengingatkan saya bahwa kita pasti menemu kematian. Kapan pun.

Saya terkelu.

Sabtu, 02 Juni 2018

Yang Muda yang (Membayangkan) Bercinta


KAWAN saya, sebut saja namanya Kliwon—sesuai nama samarannya, ia lahir dengan weton Kliwon—bercerita bahwa ia mengintip orang tuanya bercinta. Saya penasaran. Bagaimana bisa?

Mau bêngi, paling dikirå aku wis turu. Bapak-ibu mlêbu kamar têrus lawangé dikunci. Biasané ora. Pênasaran. Dakincêng saka bolongan kunci,” jelasnya. Tentu saja, kawan saya itu lalu menceritakan adegan demi adegan berikutnya. Ah, sudah, biar saya simpan sendiri. Daripada sampean batal puasa karenanya.

Rabu, 30 Mei 2018

Sabar


MASIH ingat, siapa yang pernah mengajarkan sikap sabar kepada sampean?

Bagi saya, salah satunya adalah bapak. Melalui ia, saya belajar bersabar dalam menerima apa pun yang diberikan oleh Gusti Allah. Narimå ing pandum secara lêgå, lilå, dan ikhlas.

Sejak menikah, bapak tinggal di rumah mertua. Bapak dan mama saya belum punya rumah sendiri. Rumah yang dibeli menggunakan uang hasil jerih payah sendiri. Bukan rumah warisan. Mereka pasangan muda. Mama, 26 tahun usianya. Bapak 2 tahun lebih tua.

Kamis, 17 Mei 2018

Puasa


Nèk lêmu, iså tênang nèk kêtêmu wång tuwå,” kata Ariyo, “wång tuwå ora mikir rênå- rênå. ‘Anakku kok kuru, åpå (o)ra tau di(we)nèhi mangan karo bojoné?’”

Siang itu, kami sedang makan di kantor. Jemuwah Kliwon. Dua puluh April 2018. Obrolan itu bumbunya.

Saya kisahkan kepada Ariyo, kawan saya, bahwa ada orang tua yang justru tak senang jika anaknya gemuk, karena: (1) khawatir anaknya berisiko menderita sakit tertentu, semisal jantung, hipertensi, atau kolesterol, dan (2) merasa bahwa mereka tak berhasil mendidik anaknya menjadi manusia yang asketik.

Bapakku, pas pirså nèk aku lêmu, ngêndikå, Kowé kok bêngêp kabèh ngunu, Feb. Kowé rak ora åpå-åpå tå?’” cerita saya.

Begitulah. Di Jawa, tubuh memang mendapat perhatian khusus. Pewayangan, cerminannya. Dunia bayang-bayang. Idealisasi kehidupan manusia Jawa.

Selasa, 08 Mei 2018

Dinosaurus, Roti Bakar, dan Guling


DUA puluh sembilan April 2018. Saya sedang membaca. Mas Dhaya sedang mewarnai robot, Optimus Prime, gambaran saya. Tetiba, ia teringat sesuatu.

“Abi masih seneng lihat foto Mas Dhaya di kos-kos Abi?” tanyanya. Ia menyebut indekos sebagai kos-kosan dengan pelesapan sufiks -an.

Saya mengiakan. Ia bergegas mencari sesuatu di lemarinya.

Sembari menyerahkan selembar kertas bekas, ia berkata, “Ini dikasih gambar sama Mas Dhaya. Biar Abi ingat (Mas Dhaya).”

Ada gambar bulat-bulat di kertas itu. Tertulis namanya juga. Katanya, itu gambar dinosaurus dan telur dinosaurus. Saya memujinya. Meski, sejujurnya, saat seusianya, saya dapat menggambar hewan dan manusia jauh lebih baik. Saya merasa wis kåyå Pak Tino Sidin1 . Semua-muanya dinilai bagus. Eh, sampean rak weruh Pak Tino Sidin ?

Minggu, 06 Mei 2018

Hanya Mi Instan, Bukan yang Lain


SYAHDAN, seorang lelaki bercanda dengan anaknya. Kamar berukuran 3 x 4 meter itu memantulkan tawa mereka.

Sebagian rambut lelaki itu telah memutih. Sepertiga abad lebih umurnya. Mestinya, rambutnya tak secepat itu berubah warna. Ia ingat, perubahan itu mulai tampak saat usianya 27 tahun. Satu-dua saja, kala itu. Bertambah satu-dua lagi saat ia berusia 30-31 tahun. Mungkin, itu seturut tanggung jawabnya yang bertambah.

Memasuki usia 34 tahun, rambut putih itu semakin banyak. Tak hanya di kepala, tapi juga di sebagian besar hidung dan 5 helai di janggutnya. Suatu ketika, seorang kawannya, Yogi namanya, berkomentar, “Cahayanya tambah, Om.”

Ia tersenyum. Cahaya. “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya,” demikian sabda Kangjeng Nabi.1 Maka, sekali lagi ia tersenyum.

Selasa, 01 Mei 2018

Dari Soal Jembatan Widang Sampai Hari Buruh


SEHARI sebelum peringatan Hari Buruh hari ini. Pagi. Lebih kurang pukul 05.25 WIB. Kaum buruh, kaum marhaen, rakyat pekerja, kaum miskin kota, proletar, atau apa pun sebutannya sudah bergelut dengan kemacetan, bising dan sesaknya jalanan, dan segala rupa ketakadilan. Mungkin, usai salat subuh, di antara mereka ada yang memacu adrenalin dengan menyelinap agar tak bertemu pemilik indekos dan ditagih uang sewa. Di tempat lain, diam-diam, pemimpin perusahaan, borjuis, menyeruput kopi. Melihat sekilas ke luar. Mobil mewahnya sudah disiapkan oleh sopirnya sejak tadi. Rencananya, ia akan berlibur bersama dengan keluarganya. Memacetkan jalan bersama dengan buruh-buruhnya yang lain yang bermental borjuis. Alah, apa salahnya menikmati hidup?

Sabtu, 14 April 2018

Maafkan Kedunguan Saya. Itu saja.


THALABUL ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin. Rawāhu Ibnu Mājah,” kata Mas Dhaya. Lancar. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (H.R. Ibnu Majah).

Itu hadis kesembilan yang ia hafal. Saat itu usianya baru 3 tahun. Ia baru nyantri di pondok pesantren di Pungging, Mojokerto. Sekira 7 km dari rumah mertua; tempat kami menumpang tinggal. Sebenarnya, tak jauh dari rumah mertua, lebih kurang 100 m, ada pondok pesantren lain. Lebih lama didirikan. Namun, di antara beberapa pesantren yang kami nilai pas dengan kriteria kami, Mas Dhaya memilih pesantren tempat nyantri-nya sekarang. Jadi ya, sudahlah.

Di pesantren itu, santri usia PAUD, ditarget hafal sekurangnya 60 hadis dan 2 juz al-Quran. Perlu disiplin dan pembiasaan, memang. Namun, karena suasana saat ziyadah dan muraja’ah dibikin santai, berbasis alam, tampaknya santri-santri kecil itu, termasuk Mas Dhaya, tak merasa terbebani.

Kamis, 05 April 2018

Mirip


DADAH, Abi...,” teriak Mas Dhaya sambil melambaikan tangan kepada saya. Saya membalasnya dari dalam bus. Sambil tersenyum dan menyembunyikan kesedihan, tentu saja. Berpisah dengan anak-istri itu berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja. Halah!

Mas Dhaya dan ummi-nya mengantarkan saya nyegat bus. (dokpri)

Namanya Widhayaka Ujjwala Mahaprasiddha. Ia anak tunggal kami—saya dan istri saya. Sejak kecil, ia biasa kami panggil Mas Dhaya. Saya dan istri saya sama-sama sulung. Saya memiliki 4 adik—semua perempuan—dan istri saya memiliki seorang adik laki. Dalam budaya Jawa, anak adik-adik kami, meski mereka lebih tua, harus memanggil anak kami dengan sebutan mas. Anak kami sangat suka sebutan itu. Ia selalu memperkenalkan diri kepada siapa pun dengan percaya diri, “Mas Dhaya.” Bahkan ia tak segan memprotes keras jika ia dipanggil dengan sebutan dik, “Adik, adik, Mas Dhaya itu kakak, mas, bukan adik. Piye seh!

Minggu, 16 April 2017

Leky

ORA oleh mengidolakan uwong sakliyane kangjeng nabi. Murtad kuwi! Kapir!” kata kawan SD saya.

Romannya serius. Saya cengengesan.

Sergahnya, “Heh, iya, kuwi jare kiaiku.”

Saya mengangkat bahu. Tersenyum. “Ngajimu durung jangkep,” kata saya.

Hatinya panas. Ia mengejek, “Kapir, kapir, kapir…

Namanya anak-anak. Bisa tengkar, tapi sebentar kemudian berderai tawa dalam permainan. Tak ada jabat tangan. Tak ada kata maaf. Tapi mereka sama tahu bahwa mereka telah saling memaafkan, bahkan sebelum kejadian tak mengenakkan itu terjadi. Begitulah kepolosan yang mereka punya.

Saya maklum. Perdebatan dengan kawan saya terjadi tanpa rencana. Ini hanya soal pujaan. Pemeluk Islam mafhum bahwa kangjeng nabi manusia utama. Ini mutlak dalam aras iman. Seperti waktu kawan saya itu saya tanya tentang sebabnya. Ia berkeras, “Ya, pokoke kudu ngunu!” Ya, pokoknya. Begitulah yang hingga kini jamak dianggap sebagai iman. Lugas. Tanpa syarat. Bebas dari intervensi nalar. Meskipun yang terakhir itu disebut-sebut sebagai nikmat Tuhan yang dapat meningkatkan derajat iman.