Sabtu, 25 Juli 2020

Desa dan Orang-Orang Kalah [Resensi "Aib dan Nasib" - Minanto]




Data Buku

Judul: Aib dan Nasib: Sebuah Novel

Pengarang: Minanto

Penerbit: Tangerang Selatan, Marjin Kiri

Cetakan: I, Juli 2020

Ukuran: 14 × 20,3 cm

Tebal: vi + 263 hlm.

ISBN: 978-602-0788-00-5

 

  

“YANG aku takutkan selama ini baru saja terjadi,” ujar Nurumubin kepada Marlina. “Karena kau tidak pernah makan bangku sekolah dan tidak pernah berpikir panjang,” lanjutnya. Marlina, anak lelaki pertamanya, bergeming. (hlm. 220)

Bagi Nurumubin, makan bangku sekolah itu penting. Melaluinya, orang dapat mentas dari kemiskinan. Sugih. Tak hanya bisa makan empat sehat lima sempurna, harkat keluarganya pun terangkat.

Di novel, pembaca dapat menemu banyak orang tinggal di desa. Di antaranya, lima remaja yang dikisahkan bersekolah di tempat yang sama. Termasuk Pang Randu dan Godong Gunda. Mereka adik Marlina. Di sekolah, mereka belajar mengutak-atik mesin.

Ajaib. Desa dibayangkan masih areal persawahan dan perkebunan. Desa belum dikuasai pabrik, mesin, dan polusi. Namun, mereka berjurusan mesin. Sekolah itu memberikan pilihan. Pabrik segera didatangkan ke desa atau pemuda desa seperti mereka dikirimkan ke pabrik-pabrik di luar desa. Menjadi buruh.

Jadi, sekolah menjauhkan orang dari alam lingkungannya. Dari soal-soal desanya. Oh, sekolah malah menimbulkan masalah baru.

Namun sekali lagi, sangka Nurumubin—juga orang tua Kicong dan lain-lain—menyekolahkan anak sudah pilihan tepat. Ada benarnya. Tanpa ijazah orang bisa jadi penjaga toko seperti Marlina atau tukang becak seperti Mang Sota, tetapi orang tak bisa jadi buruh pabrik, perangkat desa, atau anggota DPR. Padahal, pekerjaan lain macam itu perlu diangankan. Mengingat lahan pertanian makin susut. 

Jadi, sekolah itu investasi. Biaya mahal yang susah payah dipenuhi sekarang dijanjikan dinikmati untungnya pada masa depan. Orang lupa. Investasi juga bisa rugi. Terutama jika pengetahuan tentang produk investasi misalnya, tak diketahui.

Nurumubin dan banyak orang tua di desa sangat mungkin termasuk golongan itu. Mereka tak banyak tahu institusi menjual pendidikan sebagai komoditas bermutu rendah. Akibatnya, orang-orang desa lagi-lagi menjadi orang merugi. Orang kalah.

Mari bicara orang kalah lain di novel. Gulabia. Dia teman Pang Randu dan pacar Kicong. Dia hamil oleh Kicong yang segera lari setelahnya. Gulabia terpaksa kawin dengan Kartono, tukang angkot yang juga pernah bersetubuh dengannya.

Adegan perkenalan, perbincangan, dan akhirnya persetubuhan Kartono-Gulabia terjadi karena Kartono ditinggal istri menjadi TKW. Banyak perempuan di desa menjadi TKW karena negara tak mampu menjamin kehidupan layak di desa.

Nah, kawin dengan Kartono malah masalah baru. Gulabia mengalami kekerasan. Fisik, psikologis, verbal, dan seksual. Kartono memaksa Gulabia beradegan BDSM (Bondage, Discipline, Sadism, Masochism). Pembaca ragu Kartono membaca trilogi Fifty Shades of Grey. Entah kalau terinspirasi film-film cabul.

Diperlakukan kasar tiap hari, Gulabia keguguran. Usia kandungannya 6 bulan. Aneh. Pengarang menggambarkan sebagai keluar gumpalan darah yang tinggal dibuang ke pelataran belakang rumah. (hlm. 137-138) Padahal, janin berusia 6 bulan umumnya telah memiliki berat sekira 0,60 hingga 1 kilogram dan panjang 35-38 cm. Janin itu sudah dapat dilahirkan (secara prematur) meski dengan tingkat harapan hidup kurang dari 50%. Artinya, janin bukan lagi gumpalan darah. Ia telah berorgan tubuh lengkap.

Dari Gulabia, pembaca mengerti perempuan rentan ketakadilan dan kekerasan. Alih-alih memberikan dukungan, banyak pihak justru mempersalahkan. Pembaca lekas ingat nasib RUU PKS. Wakil rakyat pernah bilang, itu sulit.

Ya, sama sulitnya dengan mencari kepala desa, babinsa, dan bhabinkamtibmas dalam novel. Pembaca menduga itu cermin absennya negara di soal-soal  rakyat. Tokoh-tokoh di novel memilih mengatasi masalah dengan caranya sendiri. Kerap berupa kekerasan, perdukunan, atau pelarian. Bukannya berhasil, mereka terjebak permasalahan baru. Akhirnya, lagi-lagi mereka menjadi orang yang kalah.

Sayang. Di novel dengan kekuatan narasi macam itu, banyak bertebaran kata tak baku, hilang, salah tik, dan mubazir. Kosakata lokal yang digunakan hampir semua luput diterjemahkan. Satu-dua kalimat rasa-rasanya juga mustahil ditemukan dalam komunikasi lisan sehari-hari. Setidaknya bagi orang berpendidikan rendah. Misal, “cara bercandamu itu tidak membikin aku terkesan sama sekali.” (Hlm. 13) Kurang normal.

Kemalasan pengarang? Pengarang adalah lulusan sastra. Meski bukan Sastra Indonesia. Pembaca mengasumsikan setiap lulusan sastra peka terhadap hal elementer kebahasaan. Kira-kira begitu•fgs

 

 

 


3 komentar:

  1. Saya belum sempat membaca buku ini, padahal sudah ditunggu-tunggu terbit sejak tahun lalu. Terima kasih resensinya, Mas Febrie. Salam kenal.

    BalasHapus
  2. Udah ngincer buku ini sejak awal peluncurannya. Aku tahu pasti ada sesuatu yang istimewa tentang buku ini

    BalasHapus