Selasa, 16 Juni 2020

Kamus Umum Bahasa Indonesia



Data Buku

Judul: Kamus Umum Bahasa Indonesia

Pengarang: W.J.S. Poerwadarminta

Penerbit: Jakarta, Perpustakaan Perguruan Kementerian P. P. dan K

Cetakan: II, Februari 1954

Ukuran: 14 × 20 cm

Tebal: 904 hlm.

 

 

KAMUS garapan W.J.S. Poerwadarminta baru sampai pekan lalu. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kamus mengabadikan bahasa masih berejaan Soewandi (1947).

Ejaan Soewandi bukan ejaan Van Ophuysen (1901). Ia tak pakai oe. Pun tak kenal é. Pendeknya, ejaan itu identitas bangsa baru merdeka. Ejaan menandai bangsa lepas dari kolonialisme.

Bung Karno termasuk tokoh menyesuaikan ejaan. Soekarno ia ubah jadi Sukarno. Ejaan mengemuka sebagai soal politik.

Jelas tulisan politik adalah teks Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan. Tulisan berbahasa Indonesia. Bukan Jawa atau etnik lainnya. Apalagi Belanda. Padahal, masa itu, tokoh-tokoh politik biasa menyatakan gagasan atau berdebat dalam bahasa Belanda.

Di Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Bung Karno mengaku berpikir, berdoa, juga memaki dalam bahasa Belanda. Awalnya, Bahasa Belanda memang dirasa lebih canggih dalam beberapa hal daripada bahasa Melayu—untuk menyebut “bahasa Indonesia” kala itu.

Nah, generasi kiwari sudah fasih omong Indonesia gagal membayangkan pilihan bahasa politik itu heroik. Dikira, penggunaan bahasa Indonesia wajar dan serbaalami.

Itulah. Pada galibnya, ingatan orang tentang sejarah melulu soal perebutan kekuasaan. Melalui jalan perang atau siasat politik. Begitu kiranya diajarkan buku pelajaran. Perjuangan kebahasaan belum punya tempat.

Asal tahu saja, menundukkan bangsa setidaknya dapat dilakukan melalui empat jalan. Kuasa politis, kuasa intelektual, kuasa budaya, dan kuasa moral. Mengontrol bahasa untuk mengendalikan pikiran rakyat adalah praktiknya.

Jadi, menelusuri kata dan makna itu menarik. Juga penting. Penelusuran bisa dengan memperbandingkan antara Kamus Umum Bahasa Indonesia berejaan Soewandi dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cetakan I, 1988) ber-EYD.

Omong-omong, Kamus Umum Bahasa Indonesia cetakan pertama (1952) itu langka. Di lokapasar, ada yang mencoba peruntungan dengan menjualnya seharga Rp25 juta! Harga membikin gentar kaum berdompet tipis. Maka, mendapatkan cetakan kedua (1954), sudah kebahagiaan. Lagi pula, di cetakan kedua, Poerwadarminta menulis, “Selain perbaikan salah tjetak dan tambahan sedikit-sedikit, tiada bedanya dengan tjetakan pertama.”

Cetakan pertama terbit sekira 10 tahun setelah Poerwadarminta mulai menyusunnya. Sebagai patokan awal pengumpulan kata, Poerwadarminta mempergunakan novel dan buku-buku.

Setiap kata ditulis pada sehelai kartu, disertai keterangan-keterangan yang sekiranya diperlukan.” terang Swantoro dalam Dari Buku ke Buku.

Kerja rumit. Tak sebanding agaknya dengan keminderan orang berbahasa Indonesia. Kira-kira begitu.●fgs

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar