Senin, 03 Mei 2021

Membaca Blandong di Sekuel Novel [Resensi "Anwar Tohari Mencari Mati" - Mahfud Ikhwan]


 
Data Buku
Judul: Anwar Tohari Mencari Mati (Sebuah Novel)
Pengarang: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Cetakan: I, Februari 2021
Ukuran: 14 × 20,3 cm
Tebal: vi + 207 hlm.
ISBN: 978-602-0788-12-8

 

“TAPI aku benar-benar tak bisa menggerakkan lidah,” keluhnya.

 

Ia wartawan. Mustofa Abdul Wahab, namanya. Mulutnya disumpal oleh Hendro Siswanto. Dosen. Kritikus sastra. Anak Hanggono; tentara—adik Sinder Harjo—yang terbunuh saat bertarung dengan Anwar Tohari.

Rabu, 26 Agustus 2020

Identitas Kolonial-Pribumi dalam “Roman Picisan” [Resensi "Setan van Oyot" - Djokolelono]


 

Data Buku

Judul: Setan van Oyot: Sebuah Roman Picisan

Pengarang: Djokolelono

Penerbit: Tangerang Selatan, Marjin Kiri

Cetakan: I, Maret 2019

Ukuran: 14 × 20,3 cm

Tebal: x + 293 hlm.

ISBN: 978-979-1260-85-5

 

  

CANTIK itu luka. Judul novel Eka Kurniawan pas dengan nasib perempuan cantik di perkebunan era kolonial. Paras cantik mendatangkan nasib buruk bagi si empunya. Dilecehkan. Dirudapaksa. Tuan mereka pelakunya. Belanda. Tak peduli meski si empunya sudah bersuami. Itu kisah di Deli.

Di Wlingi, di novel Setan van Oyot, nasib serupa dialami Tinah. Anak Kromo. Penjaga Kamar Bola. Tempat tuan-tuan mencari hiburan. Main biliar. Minum-minum. Tinah yang sedang belajar menari bersama sebelas perempuan lain, dilecehkan oleh Direktur Pabrik Gula (PG). Cornelis, namanya. Disentuh tanpa persetujuan. Puncaknya, dia nyaris diperkosa. 

Sabtu, 25 Juli 2020

Desa dan Orang-Orang Kalah [Resensi "Aib dan Nasib" - Minanto]




Data Buku

Judul: Aib dan Nasib: Sebuah Novel

Pengarang: Minanto

Penerbit: Tangerang Selatan, Marjin Kiri

Cetakan: I, Juli 2020

Ukuran: 14 × 20,3 cm

Tebal: vi + 263 hlm.

ISBN: 978-602-0788-00-5

 

  

“YANG aku takutkan selama ini baru saja terjadi,” ujar Nurumubin kepada Marlina. “Karena kau tidak pernah makan bangku sekolah dan tidak pernah berpikir panjang,” lanjutnya. Marlina, anak lelaki pertamanya, bergeming. (hlm. 220)

Bagi Nurumubin, makan bangku sekolah itu penting. Melaluinya, orang dapat mentas dari kemiskinan. Sugih. Tak hanya bisa makan empat sehat lima sempurna, harkat keluarganya pun terangkat.

Di novel, pembaca dapat menemu banyak orang tinggal di desa. Di antaranya, lima remaja yang dikisahkan bersekolah di tempat yang sama. Termasuk Pang Randu dan Godong Gunda. Mereka adik Marlina. Di sekolah, mereka belajar mengutak-atik mesin.

Ajaib. Desa dibayangkan masih areal persawahan dan perkebunan. Desa belum dikuasai pabrik, mesin, dan polusi. Namun, mereka berjurusan mesin. Sekolah itu memberikan pilihan. Pabrik segera didatangkan ke desa atau pemuda desa seperti mereka dikirimkan ke pabrik-pabrik di luar desa. Menjadi buruh.