Sabtu, 25 Juli 2020

Desa dan Orang-Orang Kalah [Resensi "Aib dan Nasib" - Minanto]




Data Buku

Judul: Aib dan Nasib: Sebuah Novel

Pengarang: Minanto

Penerbit: Tangerang Selatan, Marjin Kiri

Cetakan: I, Juli 2020

Ukuran: 14 × 20,3 cm

Tebal: vi + 263 hlm.

ISBN: 978-602-0788-00-5

 

  

“YANG aku takutkan selama ini baru saja terjadi,” ujar Nurumubin kepada Marlina. “Karena kau tidak pernah makan bangku sekolah dan tidak pernah berpikir panjang,” lanjutnya. Marlina, anak lelaki pertamanya, bergeming. (hlm. 220)

Bagi Nurumubin, makan bangku sekolah itu penting. Melaluinya, orang dapat mentas dari kemiskinan. Sugih. Tak hanya bisa makan empat sehat lima sempurna, harkat keluarganya pun terangkat.

Di novel, pembaca dapat menemu banyak orang tinggal di desa. Di antaranya, lima remaja yang dikisahkan bersekolah di tempat yang sama. Termasuk Pang Randu dan Godong Gunda. Mereka adik Marlina. Di sekolah, mereka belajar mengutak-atik mesin.

Ajaib. Desa dibayangkan masih areal persawahan dan perkebunan. Desa belum dikuasai pabrik, mesin, dan polusi. Namun, mereka berjurusan mesin. Sekolah itu memberikan pilihan. Pabrik segera didatangkan ke desa atau pemuda desa seperti mereka dikirimkan ke pabrik-pabrik di luar desa. Menjadi buruh.

Selasa, 16 Juni 2020

Kamus Umum Bahasa Indonesia



Data Buku

Judul: Kamus Umum Bahasa Indonesia

Pengarang: W.J.S. Poerwadarminta

Penerbit: Jakarta, Perpustakaan Perguruan Kementerian P. P. dan K

Cetakan: II, Februari 1954

Ukuran: 14 × 20 cm

Tebal: 904 hlm.

 

 

KAMUS garapan W.J.S. Poerwadarminta baru sampai pekan lalu. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kamus mengabadikan bahasa masih berejaan Soewandi (1947).

Ejaan Soewandi bukan ejaan Van Ophuysen (1901). Ia tak pakai oe. Pun tak kenal é. Pendeknya, ejaan itu identitas bangsa baru merdeka. Ejaan menandai bangsa lepas dari kolonialisme.

Senin, 25 Mei 2020

Menikmati Bualan [Resensi Novel “Dawuk” – Mahfud Ikhwan]



Data Buku

Judul: Dawuk: KIsah Kelabu dari Rumbuk Randu

Pengarang: Mahfud Ikhwan

Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan

Cetakan: II, November 2017

Ukuran: 14 × 20,3 cm

Tebal: vi + 182 hlm.

ISBN: 978-979-1260-69-5

 

 

KALIAN tahu, apakah kebahagiaan itu?” (Hlm. 57) Telak. Pembaca penasaran pilih melanjutkan baca.

Di Jawa, pembaca ingat ungkapan urip mung mampir ngombé. Hidup sekadar mampir minum. Bukan mampir bahagia. Waktunya sak nyuk. Sebentar. Peristiwa minum dihitung pakai detik. Minum belum berkacamata iman.

Padahal, minum bisa jadi lama. Minum tuak, misal. Di novel, beberapa tokoh doyan minum tuak. Aha, atau ngopi! Di warung kopi, adegan menyeruput kopi ditingkahi obral obrol, ngrokok jedhal-jedhul, dan dolanan. Sekak atau remi. Lama. Dan nikmat, jangan lupa. Apalagi sekarang. Warung kopi ber-Wi-Fi. Lama harus ditambahi sekali.