Senin, 24 September 2018

Masih Adakah yang Berani Berkata Benar?






MICHEL FOUCAULT (1926-1984) adalah salah satu pemikir terbesar Prancis abad ke-20. Teori-teorinya mengurai hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan serta penggunaannya sebagai kontrol sosial melalui institusi kemasyarakatan. Pada galibnya, ia dikelompokkan sebagai filsuf pascamodern dan pascastruktural, meski ia menampiknya. Ia lebih suka menyebut pemikirannya sebagai kritik modernitas.

Karya-karya Foucault berpengaruh besar pada bidang kajian budaya, sosiologi, feminisme, dan teori kritis. Buku bartajuk Parrhesia: Berani Berkata Benar ini diterjemahkan dari bahasa Inggris dan disusun berdasarkan rekaman kaset enam ceramahnya di Universitas California, Berkeley, pada musim gugur 1983, sebagai bagian dari seminarnya tentang “Wacana dan Kebenaran”. (hlm. vii)

Kata parrhesia muncul kali pertama dalam kesusastraan Yunani pada karya-karya Euripides sekira 484-407 SM. Kata ini selanjutnya berkembang luas di dunia kesusastraan Yunani antik sejak akhir abad kelima SM.

Senin, 17 September 2018

Melihat Kemiskinan dengan Kacamata Lain





ROANNE VAN VOORST adalah seorang antropolog dari Belanda yang sedang mengumpulkan data untuk disertasinya. Dia meneliti respons masyarakat miskin terhadap banjir. Dalam buku ini, dia mengisahkan amatannya yang mendalam dan hidup atas kampung kumuh dan rawan banjir di Jakarta. Kini, kampung itu telah digusur oleh kuasa.

Awalnya, Roanne tak menemukan lokasi kampung yang tepat untuk dia teliti. Birokrat enggan berbagi informasi. Mereka berdalih bahwa lokasi itu rawan bencana. Kemiskinan juga menjadikan penduduk di sana menjadi jahat.

Di tengah keputusasaan, Roanne justru menemukan kampung itu tanpa dia duga. Seorang pengamen yang dia jumpai dalam bus kota, Tikus namanya, bukan nama sebenarnya, menawari Roanne, "Mau ikut?"

Rabu, 12 September 2018

Menyalahkan Kekeliruan, Mengaprahkan Kebenaran






MENGAPA Ivan Lanin memilih kenapa—kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan dalam ragam percakapan—dan bukan mengapa sebagai subjudul bukunya? Saya menduga, ia hendak menunjukkan bahwa dalam bukunya itu, alih-alih seberat paparan pakar linguistik, ia justru membahas dan mengusulkan kata yang baku dalam bahasa Indonesia seringan percakapan di warung kopi.

Rabu, 29 Agustus 2018

Bersepeda


“BESOK naik sepeda sampai Indomaret yang samping gang itu ya, Abi,” ajak Mas Dhaya. Jarak tempuh dari rumah mertua saya ke tempat yang ia maksud sekira 1,7 kilometer.
“Abi bisa pingsan, Nak. Itu terlalu jauh,” jawab saya.
Ia heran. “Kok pingsan?” tanyanya.

Selasa, 24 Juli 2018

Olahraga


SEMUA perempuan di ruang rapat berteriak histeris segera setelah saya memakai kaus polo pesanan. Kaus seragam. Warnanya merah. Laras dengan warna lembaga kami. Kaus itu terasa pas di tubuh saya. Maklum, saya memesan kaus dengan ukuran XS. Ukuran terkecil di antara kawan-kawan.

Ketika memakai kaus itu, otot dada saya yang tak lagi terlatih menjadi sedikit menonjol. Perut tampak ramping. Jelas membikin histeria, bukan?