Selasa, 12 Juni 2018

Ulang Tahun


SEPERTI biasa. Tempo hari, menjelang subuh, ia bangun. Yang tak biasa, ia membuka kelopak mata dan seketika bertanya, “Kapan Mas Dhaya ulang tahun, Abi?”

“Tulat, Nak,“ jawab saya.

“Harus ada roti, tiup lilin, kado, terus semua mengucap selamatkah?” tanyanya. Lengkap dengan aksen Melayu. Ah, ia terlalu banyak menonton Upin-Ipin.

Saya mengeloninya. Saya jawab, “Tidak. Abi merayakan ulang tahun dalam sunyi. Mas Dhaya perlu begitu juga. Bermenung, Nak.”

“Bermenung?” gumamnya.

Senin, 11 Juni 2018

Namira, Kebersihan, dan Sate Babat


SELAMA Ramadan di Lamongan, saya dan kawan saya, Ariyo, kerap berburu takjil di Masjid Namira. Senin sampai dengan Kamis. Jumat, ia pulang ke Bojonegoro. Saat ia pulang dan saya tak balik ke Mojokerto, saya salat tarawih di Masjid al-Azhar, Muhammadiyah.

Ariyo selalu menjemput saya. Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan, biasanya saya telah menunggunya di depan kos dengan gaya itu-itu saja: berkacamata, bersarung, berkaus, bertas selempang, dan bersandal jepit. Itu bisa jadi simbolisasi ustaz muda yang sedikit nakal dan banyak akal. Tipikal lelaki yang digandrungi perempuan. Halah, gombal!

Sabtu, 09 Juni 2018

Mari Tertawa Sesuai KBBI


SEJAK 7 Juni 2018, kemarin lusa, saya kembali bertugas di Tuban. Tak terasa, 6 bulan saya melaksanakan tugas perbantuan di Lamongan. Rasanya, baru minggu lalu saya berkeliling kota. Memetakan wilayah tugas. Sepertinya baru beberapa hari ini saya ajek membeli segå boranan di depan Hotel Elresass sepulang kerja dan berbincang dengan penjualnya sebelum balik ke indekos.

Selasa, 05 Juni 2018

Menjaga Bangsa


TUHAN menyediakan banyak kejutan dalam hidup. Juga pagi tadi. Masih dengan mata riyip-riyip dengan kesadaran yang belum genap, Mas Dhaya berkata, “Aku belum pernah masuk gereja, Abi. Besok Mas Dhaya diajak lihat gereja, ya?”

Saya tertegun.

Tuhan... oh ya, saya lebih senang menyebutnya Gusti Allah, baik Allah dengan lafal a maupun å. Dalam aras tertentu, bagi saya, keduanya sama belaka: perangkat bahasa yang digunakan oleh manusia, sebagai wujud ikhtiar saya kira, untuk menyebut Ia yang sejatinya tak dapat dibayangkan apalagi diringkus dalam definisi. Ia yang hanya dapat dijangkau oleh iman dan kerinduan. Nama atributif, dalam hal ini, menjadi penting. Untuk memaknai pengalaman religius personal, di antaranya.

Minggu, 03 Juni 2018

Dosa


MBAH penjual Bobo meninggal. Kecelakaan. Tukang cukur yang mengabarkannya. Saya menyimak dan tak berkomentar kecuali ber-istirja’.

Setelahnya, Mas Dhaya yang berkomentar. Meski sambil lalu. Katanya, “Kok tumben meninggal?”

Saya agak kaget mendengarnya. Ia memahami kematian. Ia juga pernah menyaksikannya. Kosakatanya kaya. Struktur bahasanya cukup bagus. Namun, tumben meninggal itu hal ganjil. Mati itu bukan tindakan yang biasanya tak mau lalu tetiba mau.

Namun, ia tak mungkin hendak bertanya mengenai sebab kematian. Untuk maksud itu, ia biasanya bertanya, “Kok tiba-tiba meninggal. Sakit ?” Saya menyangka, melalui kalimat tak biasa itu, Gusti Allah mengingatkan saya bahwa kita pasti menemu kematian. Kapan pun.

Saya terkelu.