Senin, 07 Januari 2019

Menengok Masa Lalu Itu Perlu




Data Buku
Judul: Masa Lalu Selalu Aktual Jilid II
Penulis: P. Swantoro
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Cetakan: I, September 2018
Ukuran: 14 × 21 cm
Tebal: xi + 392 hlm.
ISBN: 978-602-481-029-0



“SEJARAH terbentuk dari siklus. Riwayat berputar seperti roda gerobak sapi,” kata Goenawan Mohamad, “masa baik datang, tapi nanti masa buruk menggantikan.” Justru sebab itulah, Polycarpus Swantoro menerbitkan buku ini: agar kita belajar sesuatu dari masa lalu. Agar kita mampu senantiasa mewawas diri.

Buku ini merupakan jilid kedua (terakhir) dari seri Masa Lalu Selalu Aktual; sepilihan catatan Swantoro yang dimuat dalam rubrik Fokus Peristiwa Pekan Ini di Kompas pada 1978-1989. Catatan itu memuat serbaperistiwa mutakhir pada masa itu.

Ada 66 tulisan di dalamnya. Lima belas di antaranya merupakan tulisan berlatar Indonesia. Empat lainnya adalah peristiwa di negara lain yang dibandingkan dengan kondisi Indonesia. Sisanya merupakan analisis peristiwa yang terjadi di mancanegara.

Tema tulisan di dalamnya beragam. Ada politik, sosial, ekonomi, jurnalistik, dan lain-lain.

Menariknya, tak hanya mengamati peristiwa kekinian, dalam tulisan-tulisan itu, Swantoro juga menyandingkan tiap-tiap peristiwa masa itu dengan peristiwa serupa pada masa lalu. Bagi Swantoro yang pernah menjadi dosen sejarah itu masa lalu, masa kini, dan masa datang saling terhubung.

Ada kausalitas. In het heden ligt het verleden, in het nu watkomen zal. Dalam masa sekarang kita dapatkan masa lalu, dalam masa sekarang kita mendapatkan apa yang akan datang. Oleh sebab itu, meski tulisan yang dihimpun dalam buku ini telah berusia paling lama 40 tahun, ia toh masih punya daya pikat tersendiri.

Ambil misal tulisan yang menyoroti tentang kejahatan dengan senjata api di Indonesia. Swantoro mengajak kita untuk membayangkan kisah kejahatan seorang narapidana yang dimuat dalam buku bertajuk Crime in Developing Countries: A Comparative Perspective, terbitan 1973. Oleh sebab pelaku dalam kasus itu menggunakan senjata api, maka Swantoro mengusulkan operasi senjata. Operasi semacam itu pernah mangkus dilakukan oleh Polri pada 1977. (Hlm. 62-66)

Selain itu, yang tak kalah penting, tambah Swantoro, adalah kedisiplinan dan tanggung jawab penuh pemilik senjata api. Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh berita tentang peluru yang menyasar mengenai gedung DPR. Dua oknum PNS dengan pistol pinjaman diduga menjadi pelakunya. Mungkin, itu merupakan bukti bahwa bahasan Swantoro tentang senjata api masih menemu relevansinya hingga masa kini.

Sayangnya, beberapa tulisan rasanya kurang mendalam. Tulisan tentang perjudian dalam kehidupan masyarakat, misalnya. Tulisan itu menceritakan penutupan judi Toto Greyhound oleh Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo (1977-1982) pada Oktober 1978. Meskipun, dengan adanya penutupan itu, hilanglah penghasilan Rp3 miliar untuk kas DKI Jakarta.

Dalam tulisan itu, Swantoro tak mendeskripsikan secara detail akar sejarah perjudian pada masa lampau. Bahkan, Swantoro juga tak menyebutkan secara tersurat bahwa judi Toto itu diresmikan oleh Ali Sadikin (1966-1977), gubernur sebelum Tjokropranolo.

Tirto.id mencatat bahwa perjudian disahkan oleh Ali Sadikin demi pembangunan Jakarta. “Saya sahkan judi itu. Mulai dengan lotere totalisator, lotto, dengan mencontoh dari luar negeri. Lalu dengan macam-macam judi lainnya. Sampai kepada Hwa Hwe," kenang Ali.

Sejarah menunjukkan bahwa persoalan perjudian sesungguhnya tak dapat diselesaikan dengan asal melarang atau membiarkan. Terbukti. Pada 1985-1993, pemerintah meresmikan bentuk judi lainnya: Porkas, KSOB, dan SDSB. Sekarang, kita bahkan mengenal perjudian daring.

Akhirnya, seperti kata Swantoro, “Semua bentuk perjudian pada hakikatnya merupakan taruhan mengenai hasil suatu pertandingan, suatu pertarungan, suatu kontes. Petaruh yang curang akan berusaha menang dengan segala jalan.” (Hlm. 20)

Dalam politik, khalayak mafhum, jejak perjudian juga dapat ditemukan dalam pilkades hingga pilkada. Hal itu juga terjadi di bidang ekonomi dan lain-lain. Malahan, jangan-jangan setiap sikap spekulatif sejatinya adalah berjudi? Jika benar demikian, hidup pun, seperti kata Margaret Beetcer, ibarat meja perjudian.●fgs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar