Rabu, 30 Januari 2019

Desa, Sekali Lagi.




Data Buku
Judul: Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa:
Melihat Desa Lebih Dekat
Penulis: Nurhady Sirimorok
Penerbit: EA Books, Yogyakarta
Cetakan: I, Desember 2018
Ukuran: 13 × 19 cm
Tebal: vi + 162 hlm.
ISBN: 978-602-51695-4-0



BANDUNG Mawardi—selanjutnya kita sebut ia sebagai Mawar sesuai panggilannya sejak kecil—dalam Nostalgia Desa menduga pembuat Undang-Undang Desa tak pernah baca dan tak punya buku Desa karangan Soetardjo Kartohadikoesoemo. Esai itu terpilih untuk dibukukan dalam Berumah di Buku.

Mas Soetardjo Kartohadikoesoemo, penulis buku yang dikisahkan Mawar itu, lahir di Blora pada 22 Oktober 1890. Ia anak pasangan Asisten Wedono Kunduran Kiai Ngabehi Kartoredjo dan Mas Ajoe Kartoredjo.

Soetardjo banyak bergelut dengan urusan desa. Mula-mula, ia menjabat sebagai asisten wedono, lalu wedono, dan akhirnya patih. Berpindah-pindah. Blora, Tuban, Bojonegoro, Kediri, dan Gresik. Kariernya cemerlang. Pada 18 Agustus 1945, ia terpilih sebagai gubernur pertama Jawa Barat.

Saya bisa bercerita tentangnya tetapi gagal membaca bukunya. Mawar beruntung. Ia baca dan punya buku Soetardjo. Cetakan kedua, 1965, saya kira. Terbitan Sumur Bandung. Cetakan pertama, terbit pada 1953, sampulnya berbeda.

Buku itu penting. Saya pernah melihat dan menimangnya, tetapi urung meminangnya. Belum berjodoh. Sekarang, buku itu sulit didapat. Kalau pun ada, mahal. Saya harus menimbang sebelum membelinya.

Saya punya buku-buku tentang desa. Setidaknya ada desa dalam judulnya. Misalnya, novel Perawan Desa karangan Kamajaya. Nyatalah, desa selalu menarik dipelajari. Dikisahkan. Dikenangkan. Mulai sejarahnya, pemerintahannya, masalahnya, hingga para gadisnya.

Ya, gadis-gadisnya. Mereka, terlebih yang cantik, punya sebutan khusus. Kembang desa. Mereka diincar kumbang-kumbang yang boleh jadi hanya ingin mengisap madunya. Tak ada kembang kota. Apakah di kota tak ada kembang kecuali tiruan berpoles kosmetik?

Desa memang istimewa. Sependek ingatan saya, sejak ada dana desa, buku bercerita tentang desa semakin banyak ditemukan. Buku-buku baru. Entah, siapa yang akan membacanya. Warga desa? Saya tak tahu meski berharap begitu.

Dalam 3 bulan terakhir, ada beberapa buku berkisah desa yang saya beli dan khatamkan. Bukan apa-apa. Saya tak mau Mawar samakan dengan politikus yang ia kritik itu: bergelut soal desa tetapi tak pernah membaca buku tentang desa!

Buku tentang desa yang saya beli kali terakhir pada 2018 adalah Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa: Melihat Desa Lebih Dekat tulisan Nurhady Sirimorok. Judulnya panjang. Tak seperti judul buku Soetardjo. Ah, orang boleh berbeda selera. Banyak yang suka padat-berisi. Tak sedikit yang suka panjang dan tahan lama.

Sebenarnya, Nurhady termasuk orang yang luwes dalam hal ini. Ia bisa memanjang dan memendek. Saat menulis di media daring, Tirto dan Geotimes misalnya, judul esainya panjang. Menggoda orang mengeklik. Namun, saat menulis untuk koran, judul esainya memendek.

Sampul buku Nurhady itu bergambar kartun rumah-rumah tak beraturan. Menariknya, warna dinding dan atapnya hampir seragam. Mestinya orang segera tersindir oleh sampul. Dua dekade Orde Baru tumbang, orang masih saja suka yang serbaseragam.

Soal keseragaman, Nurhady menuliskannya secara eksplisit dalam esai kesembilan di bukunya itu. Ia menyebut lomba gerak jalan Agustusan sebagai “pesta keseragaman”. (Hlm. 59-66) Orang merayakan kemerdekaan justru tanpa memiliki kemerdekaan. Mereka menjadi persona yang lurus dan taat komando. Tak dapat bersikap manasuka. Mereka pelab-pelan gandrung keseragaman. Orang berseragam. Pikiran yang seragam. Yang berbeda mereka klasifikasi sebagai musuh. Absurd, memang.

Nah, desa juga tumbuh secara hampir seragam. Aturannya sama, pegiatnya dididik secara sama, hingga lahirlah cara-cara yang sama dalam memperlakukan desa. Sebelumnya, di mana-mana, desa sibuk membangun gedung dan jalan. Tak ada habisnya. Lalu, desa latah membangun tempat wisata. Yang tak punya, boleh mengecat kampung. Pokoknya ada spot Instagramable. Berharap pelancong datang, berpotret, dan ramai-ramai mengunggah ke media sosial.

Akibatnya, secara wajar, desa menghadapi masalah yang seragam. Rampaian 21 esai dalam buku Nurhady ini berlatar luar Jawa. Sulawesi. Bandingkan isinya dengan sepilihan esai dalam buku Riza Multazam Luthfy, Jagoan dan Kekuasaan. Riza lebih banyak menulis tentang desa di Jawa. Nyatanya, kita mendapati bahwa permasalahan yang diangkat lebih-kurang sama.

Yang paling banyak ditulis adalah pemuda berpotensi meninggalkan desa. Mereka tak mau menjadi petani!

Bagi pemuda masa kini, menjadi petani memang tak menarik lagi. Petani berpenghasilan rendah. Ada esai apik Mawar bertajuk Cangkul: Pesan dan “Kemakmuran”. Mawar membuka esai dengan iklan Balsem Tjap Matjan (Kadjawen, 9 September 1941). Ada gambar petani dan tulisan di iklan itu: “Sengadja di keloearkan dalam blik ketjil boeat orang jang penghasilan sedikit dapat menjemboehkan sakit oerat-oerat, rheumatiek, kepala poesing dan sebagainja.”

Petani berarti “orang jang penghasilan sedikit”, tafsir Mawar. Ia lalu bertanya, “Petani ‘terlarang’ makmur?” Itu triwulan ketiga 1941. Sampai kini, tak ada yang menjawab pertanyaan itu secara meyakinkan.

Wacana hilangnya petani dalam peta sosial sebenarnya bukan merupakan hal baru. Sejarawan Inggris Eric Hobsbawm, pada awal 1990-an, pernah berujar soal matinya petani (the death of peasantry).

Masalahnya, kita enggan belajar dari kelampauan untuk mengkonstruksi keakanan. Pertanian dan perkebunan sejak Preanger Stelsel (1720), Cultuurstelsel (1830-1870), Agrarische Wet (1870), Suiker Wet (1870), dan seterusnya hingga masa kini boleh dibilang hanya soal kapitalisasi dan liberalisasi.

Hari ini, melalui pertanian, sebenarnya orang dapat menelusuri isu-isu kapitalisme dalam keseharian, jejak perubahan dasar relasi antarmanusia, perubahan relasi manusia dengan alam, dan seterusnya. Itu dapat menjadi titik tolak perubahan. Maukah orang?

Kecuali itu, orang tahu bahwa desa bukan hanya soal petani dan pertanian. Ia juga soal hilangnya kolektivitas, terbungkamnya kaum marginal, pendidikan yang mengalienasi, kekerasan, data perkembangan dan potensi wilayah yang tak memadai, dan lain-lain. Itu memang bukan isu di desa tertentu. Bahkan, itu bukan hanya isu desa. Sayangnya, hal-hal semacam itu belum banyak dibincangkan. Dituliskan.

Ketersediaan data, misalnya. Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya 3 menulis, “Kita hanya dapat menduga-duga evolusi pedesaan, padahal ini sangat penting.” Lebih lanjut, menurutnya, “Sumber-sumber andalan pertama (yang mulai berisi statistik) adalah yang dikumpulkan oleh para pengamat Inggris pada masa pemerintahan Raffles (1811-1815).

Sekarang, data perdesaan kita tentu lebih baik dibandingkan zaman Raffles. Namun, bukan berarti memadai. Melalui mesin pencari, akan tersua berita seperti: potensi kecemburuan saat penyaluran bantuan pemerintah, karena data warga miskin tak sahih. Atau, data pertanian tak jelas, sehingga impor janggal bermunculan.

Mestinya buku Nurhady ini memantik diskusi. Terutama di lingkaran pegiat desa. Diskusi bermuara perbaikan strategi pembangunan desa. Syukur-syukur banyak di antara mereka yang lalu menulis buku. Kisah berdesa! Saya memimpikan itu perempuan. Tulisan berperspektif perempuan tentu menarik. Kira-kira begitu.●fgs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar