Senin, 10 Desember 2018

Merenungi Perputaran Roda





Data Buku
Judul: Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit
Penulis: Rusdi Mathari
Penerbit: Mojok, Yogyakarta
Cetakan: I, Juli 2018
Ukuran: 12 × 19 cm
Tebal: x + 78 hlm.



“SAKIT itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal,” kata Rusdi Mathari. Maka, lanjutnya, “Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia.”

Rusdi membicarakan sakitnya raga. Bukan jiwa. Soal jiwa, mudah resepnya: berhenti menonton televisi. Atau, apa pun yang berisi perdebatan nirmutu kecebong dan kampret.

Sudahlah, bergaul dengan manusia saja. Seluas-luasnya. Seutuh-utuhnya. Dan, akurlah dengan Tuhan. Kalau mau. Kalau percaya.

Juga membaca buku. Ia jitu menjaga agar tetap waras. Termasuk buku Rusdi ini, Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.

Buku kecil ini bonus membeli dua buku Rusdi lainnya, (1) Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan dan (2) Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Sehimpun Reportase. Tiga buku diikat jadi satu. Pakai pita.

Sebagai bonus, ia dicetak terbatas. Tanpa ISBN.

Kata Voja Alfatih, anak Rusdi, “Buku ini ditujukan sebagai ucapan terima kasih.” Kepada semua yang telah mendukung ayahnya. (hlm. viii)

Memang, Rusdi akhirnya wafat. Ada sejumlah tumor di punggung dan lehernya.

Meski sakit, Rusdi tetap menulis. Meski tak dapat duduk tegak. Meski hanya dengan gawai. Meski dengan satu jari. Meski dengan susah payah. Meski, ah sudahlah.

Bayangkan, tangan kiri memegang gawai. Jempol tangan kanan mengetik. Kita yang bugar pun, enggan melakukannya. Sungguh manja.

Seperti dalam buku terdahulunya, Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Rusdi bercerita dalam buku ini secara apik. Enak dibaca. Beberapa kali ia seperti menasihati kita. Tak banyak. Selebihnya adalah kisahnya selama dirawat di rumah sakit.

Ada yang membikin geram. Misalnya, soal pelayanan paramedis bagi pemegang kartu BPJS Kesehatan.

Dikisahkan, dalam sakit yang semakin parah, Rusdi mau biopsi. Biayanya Rp110 juta. Ia terpaksa menggunakan BPJS. Toh, selama ini ia selalu bayar.

Maka, sesuai prosedur, ia harus mengurus rujukan dari puskesmas. Antre. Lalu, ia bawa surat itu ke rumah sakit di kabupaten.

Ia datang di RSUD 30 menit setelah subuh. Ia dapat nomor 15. Namun, ia tak diperiksa. Ia dirujuk ke rumah sakit di provinsi.

Di sana, ia harus antre lagi. Lebih lama. Lebih panjang. Sebelum subuh, antrean sudah mengular. Beberapa kali ke sana, ia selalu dapat nomor 50-an. Setelah dipanggil oleh perawat, ternyata ia hanya ditemui oleh mahasiswa kedokteran spesialis. Asisten. Tak punya otoritas. Tiga bulan berikutnya, katanya, ia baru dapat bertemu dengan dokter spesialis.

Jadi, antre hanya untuk mendengar itu. Sungguh bedebah!

Di mana-mana rakyat selalu jadi korban. Kebanyakan penguasa hanya kumpulan orang tak becus.

Namun, Rusdi orang yang hebat. Ia masih bisa menyelipkan humor dalam tulisannya. Leloetjon adalah koentji. Ia membuat duka tak terlalu terasa. Membuat air mata segera reda.

Ya, air mata. Ada dua adegan yang membuat saya berlinang air mata. Agak lama.

Pertama, saat anak Rusdi mengetahui kondisi ayahnya. Selama ini, Rusdi memang menyembunyikannya. Tampaknya, ia berharap anaknya tak bersedih. Ia sangat mencintai anaknya.

Anaknya jelas terpukul. Ia murung sekian hari.

Saat mengantre itu, Rusdi didampingi oleh anaknya. Matanya berkaca-kaca demi memandangi wajah anaknya. “Dia memalingkan muka,” kenang Rusdi, “tangannya erat menggenggam tangan saya.” (hlm. 27)

Kedua, menjelang Rusdi wafat. Kaki Rusdi sudah dingin. Anaknya kebetulan di rumah. Ia tak masuk sekolah. Tak enak badan.

Dipanggil oleh perawat, ia segera turun dari lantai dua dan menemui ayahnya. Tak ada suara atau percakapan terjadi. Bapak dan anak itu hanya saling bertatapan. Saling menggenggam tangan. (hlm. 73)

Perawat memeriksa nadi Rusdi lagi. Rusdi telah pergi.

Buku ini membuat saya berpikir semakin menghargai hidup. Mungkin benar kata Puthut EA, “Kematian hanya bisa direnungkan oleh orang yang masih hidup.” (hlm. 75) Sebanyak-banyaknya. Sedalam-dalamnya. Kira-kira begitu.●fgs



Tidak ada komentar:

Posting Komentar