Senin, 31 Desember 2018

Apa Kabar Reformasi?





Data Buku
Judul: Kita Hari Ini 20 Tahun Lalu
Penyusun: Redaksi KPG dan Litbang Kompas
Penerbit: KPG, Jakarta
Cetakan: I, Agustus 2018
Ukuran: 17 × 24 cm
Tebal: viii + 256 hlm.
ISBN: 978-602-424-860-4



“DOKUMENTASI adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam, dan memperluasnya,” kata H.B. Jassin. Kalimat itu dikutip oleh Pamusuk Eneste dalam pengantar di buku yang ditulis Jassin, Surat-surat 1943-1983. Jassin memang dikenal luas sebagai orang yang tekun dalam membuat dokumentasi. Kliping termasuk di dalamnya.

Rony Kurniawan Pratama mencatat, selain Jassin, setidaknya ada dua nama yang hasil dokumentasinya bermanfaat bagi orang banyak: Pramoedya Ananta Toer dan Ragil Suwarna Pragolapati. Keduanya juga seorang sastrawan.

Pramoedya Ananta Toer gemar mengkliping sejak zaman Jepang. Ia tularkan ketekunannya itu kepada mahasiswanya di Universitas Res Publica (sekarang menjadi Universitas Trisakti). Ia suruh mereka membikin laporan kliping. Sayang, semua kliping, termasuk karya mahasiwanya, itu dibakar habis oleh jiwa-jiwa yang kerdil.

Padahal, menurut Muhidin M. Dahlan, kliping-kliping yang ditulis ulang jadi esai bersambung itu lalu bersulih jadi dua buku Pramoedya Ananta Toer. Yang satu jadi buku biografi, Sang Pemula. Yang kedua, jadi novel sejarah Bumi Manusia.

Ragil Suwarna Pragolapati tumbuh bersama para penyair dan seniman Persada Studi Klub (PSK) di Malioboro pada 1970-an. Ia tekun mendokumentasikan hampir semua hal terkait orang-orang yang aktif di PSK. Kabarnya, sebagian koleksi Ragil kini tersimpan di Perpustakaan Emha Ainun Nadjib.

Manusia pada kodratnya adalah tempat salah dan lupa. Dalam tsunami data dan informasi dewasa ini, manusia semakin muskil menghindari keduanya. Nah, menyimpan catatan atas pelbagai peristiwa, termasuk membuat kliping, seperti yang dilakukan oleh ketiga tokoh itu sebenarnya dapat menyelamatkan kita dari lupa.

Adalah hal menarik bahwa kali ini Kompas menerbitkan sepilihan kliping ikhwal reformasi di negeri ini. Memang, bentuknya jadi buku. Namun, tampilannya mirip kliping koran. Lebih tepatnya pindaian kliping yang disusun sedemikian rupa.

Senang membacanya. Seolah kita bisa memegang korannya dan mencium aroma khasnya. Meskipun, di beberapa bagian, ukuran hurufnya jadi terlalu kecil. Sebab, sebuah artikel terbitan koran dipaksa muat dalam satu halaman buku. Bayangkan, Kompas yang memakai ukuran broadsheet 9 kolom kala itu, disesuaikan dengan ukuran buku yang hanya 17 × 24 cm.

Kliping Kompas bertajuk Kita Hari Ini 20 Tahun Lalu ini disusun untuk menggambarkan serbaperistiwa Reformasi 1998. Ia terdiri atas 5 bab. Bab pertama, Orde Baru, memuat 13 artikel pilihan yang dimuat di Kompas pada Maret 1994 sampai dengan Maret 1998.

Sebenarnya, bab ini bertujuan utama memberi gambaran singkat kepada pembaca muda yang tak mengalami Orde Baru. Meski demikian, sepilihan artikel ini juga penting untuk pembaca generasi sebelumnya. Setidaknya, membacanya dapat mengingatkan kembali pada peristiwa lampau.

Dalam bab pertama ini, pembaca akan menemukan bahwa sepanjang Orde Baru pers mudah dicurigai. Kebebasan berorganisasi sebagai manifestasi kedaulatan rakyat dilemahkan. Kritik dianggap subversi. Militer menjelma menjadi kekuatan represif. (Hlm. 11-25)

Tiga bab berikutnya untuk mengingatkan betapa krisis menerpa kita bergelompang: dari krisis moneter-ekonomi ke kemelut politik lalu ke krisis sosial dan moral. Harga-harga melonjak. Demonstrasi merebak. Ia memakan korban. Kerusuhan hingga perkosaan berbau sentimen rasial terjadi di beberapa titik. Soeharto memutuskan mundur.

Namun, rupanya krisis tak serta-merta tuntas setelah sang jenderal besar itu turun dari jabatannya. Oknum PNS/ABRI terlibat penjarahan masih terjadi. (Hlm. 205) Korupsi mewabah. (Hlm. 208)

Muncul 6 tuntutan reformasi: (1) penegakan supremasi hukum, (2) pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), (3) mengadili Soeharto dan kroninya, (4) amandemen konstitusi, (5) pencabutan dwifungsi TNI/Polri, dan (6) pemberian otonomi daerah seluas-luasnya. Berkaca pada hal itu, rupanya masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan.

Akhirnya, selain kesabaran, mengkliping sesungguhnya adalah pekerjaan yang membutuhkan kesadaran. Pengkliping mesti mengakui sesadarnya bahwa ada selaksa peristiwa dalam sehari yang tak mungkin diingat semua. Alih-alih sampai tahap mampu ia hubungkan menjadi suatu pengetahuan. Maka, mengkliping juga berarti menolak lupa. Melalui buku ini, Kompas membuktikan hal selainnya: mengkliping dapat menjadi bagian dari kerja politis.●fgs



Tidak ada komentar:

Posting Komentar