Senin, 26 November 2018

Benarkah Masih Enak Zaman Soeharto?






Data Buku
Judul: Soeharto: Setelah Sang Jenderal Besar Pergi
Penyunting: Leila S. Chudori, dkk.
Penerbit: KPG, Jakarta
Cetakan: I, Agustus 2018
Ukuran: 16 × 23 cm
Tebal: xiii + 269 hlm.
ISBN: 978-602-424-994-6



SEBUAH truk sarat muatan melintas di jalan tol. Bagian belakang baknya dihiasi lukisan seorang lelaki tua berbaju safari yang tersenyum sambil melambaikan tangan. “Piye kabaré?” tanyanya. Nadanya seperti seorang bapak yang menanyakan kabar anak-anaknya. Ada lanjutannya. Ah, pasti Anda sudah tahu.

Lukisan itu boleh jadi wujud kerinduan atas yang lalu. Mungkin sosoknya. Mungkin pula situasinya. Ia mungkin juga pertanda paling subtil sebuah kekecewaan atas kondisi kekinian. Atau jangan-jangan, itu hanya main-main; untuk menyindir rezim yang dipimpin oleh orang yang diam-diam mudah mendendam?

Ihwal Soeharto dalam Soeharto: Setelah Sang Jenderal Besar Pergi ini bukan sekadar nostalgia. Tulisan-tulisan yang diangkat dari liputan khusus majalah Tempo edisi Februari 2008 ini merupakan ikhtiar untuk mengangkat, mengupas, dan membongkar sisi kehidupan Soeharto secara apa adanya. Tentu saja, agar kita dapat menimbang dengan jernih dan luput dari amnesia.

Setelah membaca halaman awal buku ini, kita dapat segera menyimpulkan bahwa Soeharto adalah perwira militer yang pandai bersiasat dan menarik simpati. Soeharto mulai mengambil alih kekuasaan pada 1965 atas dukungan para demokrat, termasuk mahasiswa Angkatan 66, dan pemerintah Amerika Serikat. (Hlm. 4, 31-33)

Menurut Arief Budiman, saat itu sebenarnya ada yang pesimis demokrasi bisa pulih di bawah pimpinan seorang anggota militer. Namun, sikap kritis itu tenggelam di antara harapan yang muluk. (Hlm. 253)

Segera setelah menjadi presiden, Soeharto membebaskan tahanan politik dan mengizinkan surat kabar yang diberedel oleh Soekarno terbit kembali. Orde Baru dengan cepat menjelma menjadi koreksi terhadap Orde Lama. Dan Soeharto, ia memosisikan sebagai koreksi terhadap Sukarno. (Hlm. 4) Rakyat pun terbuai.

Beberapa tahun kemudian, setelah korupsi, kolusi, dan nepotisme meluas, terutama oleh keluarga dan kroni Soeharto, aksi protes bermunculan. Soeharto gerah. Ia anggap itu sebagai serangan yang dapat merongrong Pancasila dan membahayakan negara. Maka, ia gunakan militer untuk menindaknya. Korban berjatuhan. Dalam peristiwa Malari (1974) misalnya, belasan orang tewas, ratusan luka-luka, hampir seribu mobil dan motor dibakar, serta ratusan bangunan dirusak. (Hlm. 122-125) Banyak lainnya. Satu per satu dideskripsikan dalam buku ini.

Pada masa pemerintahan Soeharo pula, media tak luput dari cengkeraman. Mereka selalu diawasi dan segera diberedel jika memuat berita tak sedap. Majalah Tempo adalah salah satu yang pernah mengalaminya.

Sebetulnya, tak hanya kritik, memberitakan pribadi Soeharto pun mesti hati-hati. Salah-salah bisa dibui seperti pemimpin redaksi dan penanggung jawab majalah POP. Pada Oktober 1974, majalah itu memuat artikel yang menyebutkan bahwa Soeharto merupakan keturunan Sultan Hamengku Buwono II. Soeharto menilai bahwa berita itu dapat mengganggu kewibawaan negara. (Hlm. 187-193)

Soeharto memang memosisikan dirinya sebagai pengejawantahan Pancasila dan tentu negara. Silogisme yang dibangun adalah melawan dirinya berarti melawan negara dan anti-Pancasila.

Soeharto juga mencitrakan dirinya sebagai Bapak Pembangunan. Memang, harus kita akui ada hasil pembangunan masa itu. Ekonomi makro membaik, inflasi terkontrol, swasembada pangan tercapai (1984), angka buta huruf turun, dan pertumbuhan penduduk terkendali melalui program KB.

Namun, sesungguhnya capaian-capaian itu relatif dalam hal kuantitas dan malah problematis dalam segi kualitas. Capaian swasembada pangan misalnya, hanya bertahan selama 1984 saja. Setelah itu, Indonesia selalu mengimpor beras. Di sisi lain, setelah swasembada, konsumsi beras meningkat. Sampai kini, diversifikasi pangan bak jauh panggang dari api.

Kita tahu, stabilitas ekonomi harus didukung oleh stabilitas politik, pertahanan, dan keamanan. Maka, atas nama keamanan dan ketertiban itulah, cara-cara represif dan otoriter dibenarkan selama Orde Baru. Contohnya, penembakan misterius (petrus) pada 1982-1985. Orang yang distigma sebagai preman menjadi sasaran penembakan tanpa peradilan. (Hlm. 126-129)

Di bidang politik, dilakukan depolitisasi rakyat. Rakyat hanya mungkin berpartisipasi secara aktif dalam politik ketika pemilu. Selanjutnya, depolitisasi kampus. NKK/BKK, namanya. Informasi diawasi dan dibatasi. Akibatnya, orang kehilangan inisiatif dan sikap kritis. Pembangunan manusia melambat. Kaderisasi politisi praktis tak ada.

Indoktrinasi juga dijalankan melalui kewajiban mengikuti penataran P4 bagi siswa, mahasiswa, dan calon pegawai negeri. Melalui serangkaian kebijakan ini, opini masyarakat akan mengarah pada dukungan yang kuat terhadap Pemerintahan Orde Baru. Sayang, buku ini tak mengupas hal-hal itu.

Buku ini juga luput tak membahas soal peran RRI dan TVRI sebagai corong informasi program pemerintah. Padahal, pemerintah mensosialisasikan program-programnya terutama melalui dua media itu. Kita tentu ingat, pada era 80-an, TVRI kerap menyiarkan berita perjalanan Soeharto ke pelbagai pelosok negeri. Ada tayangan yang diprogram secara khusus, mulai Dari Desa ke Desa hingga Kelompencapir.

Ironis memang, Soeharto akhirnya mundur pada 21 Mei 1998 dengan situasi dan kondisi yang serupa dengan awal ia berkuasa: pengkhianatan, krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa, dan korban penembakan. Perpolitikan menunjukkan sejarah yang serbaberulang. Yang sekarang jatuh karena sebelumnya ia menjatuhkan kawannya.

Kita tentu mafhum, menengok masa lalu acap terjadi dalam negara yang sedang mengalami kejenuhan dalam fase transisi. Pada masa lalu, kita punya pengalaman dipimpin oleh figur yang sepertinya pernah menyediakan keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan.

Sayangnya, kita tak banyak tahu peristiwa yang terjadi masa itu. Yang kita tahu, seolah-olah suasana serbaaman.

Dengan membaca buku ini, kita dapat mengetahui sebagian dari kisah itu. Kita juga dapat menemukenali peristiwa hari ini sebenarnya merupakan akibat dari peristiwa masa lalu. Jadi piyé, pénak jamanku to?•fgs



Tidak ada komentar:

Posting Komentar