Senin, 24 September 2018

Masih Adakah yang Berani Berkata Benar?






MICHEL FOUCAULT (1926-1984) adalah salah satu pemikir terbesar Prancis abad ke-20. Teori-teorinya mengurai hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan serta penggunaannya sebagai kontrol sosial melalui institusi kemasyarakatan. Pada galibnya, ia dikelompokkan sebagai filsuf pascamodern dan pascastruktural, meski ia menampiknya. Ia lebih suka menyebut pemikirannya sebagai kritik modernitas.

Karya-karya Foucault berpengaruh besar pada bidang kajian budaya, sosiologi, feminisme, dan teori kritis. Buku bartajuk Parrhesia: Berani Berkata Benar ini diterjemahkan dari bahasa Inggris dan disusun berdasarkan rekaman kaset enam ceramahnya di Universitas California, Berkeley, pada musim gugur 1983, sebagai bagian dari seminarnya tentang “Wacana dan Kebenaran”. (hlm. vii)

Kata parrhesia muncul kali pertama dalam kesusastraan Yunani pada karya-karya Euripides sekira 484-407 SM. Kata ini selanjutnya berkembang luas di dunia kesusastraan Yunani antik sejak akhir abad kelima SM.

Parrhesia umumnya diterjemahkan sebagai berbicara bebas (free speech). Pengguna parrhesia atau orang yang berbicara kebenaran disebut parrhesiastes. Sedangkan, perbuatannya disebut sebagai parrhesiazomai atau parrhesiazesthai. (hlm. 2)

Parrhesiastes mengatakan sesuatu yang benar karena ia tahu bahwa hal itu benar. Ia tahu bahwa hal itu benar karena hal itu memang benar. Artinya, ada koinsidensi yang presisi (exact coincidence) antara kepercayaan (belief) dan kebenaran (truth).

Persoalannya, tak semua yang berbicara benar serta-merta dianggap telah menerapkan parrhesia. “Orang (baru) dikatakan menerapkan parrhesia hanya jika terdapat risiko atau bahaya baginya dalam mengungkap kebenaran. Misalnya, dari sudut pandang Yunani atik, seorang guru tatabahasa mungkin menyampaikan kebenaran kepada anak-anak didiknya (tetapi) ia bukan seorang parrhesiastes. Namun, tatkala seorang filsuf berbicara di hadapan seorang tiran dan menegasikan kepadanya bahwa tirani tidak sejalan dengan keadilan, maka sang filsuf telah berbicara benar, percaya bahwa ia telah berbicara benar, dan lebih dari itu, juga mengambil risiko … .” (hlm. 7-8)

Risiko yang mungkin ditanggung oleh parrhesiastes boleh jadi beragam rupa. Yang pasti, bahaya dapat muncul dari kenyataan bahwa kebenaran kata-kata dapat menyakiti atau menimbulkan amarah mitra wicara (interlocutor).

Lebih lanjut, untuk memahami hakikat kebenaran dan praktiknya dalam kehidupan, termasuk dalam sistem demokrasi, Foucault mengajak pembaca untuk mencermati epos Yunani klasik. Ada enam drama tragedi karya Euripides yang dikaji oleh Foucault, yaitu: Phoinissai, Hippolytos, Bakkhai, Elektra, Ion, dan Orestes. Dengannya, Foucault berupaya memberikan dasar-dasar argumentatif penerapan parrhesia dari tempat yang disebut-sebut sebagai cikal bakal konsep demokrasi.

Melalui kisah Ion misalnya, Foucault menunjukkan bahwa kebenaran dan pengungkapannya ternyata memiliki keterkaitan dengan kehormatan diri. Kebenaran tak mungkin dinyatakan oleh pribadi yang menyimpan cacat atau cemar. Kebenaran hanya dapat dipercaya apabila disampaikan oleh “orang yang tidak tercela dalam prinsip dan integritas”. (hlm. 76)

Dalam demokrasi, problem berikutnya adalah cara mengenali orang yang mampu berbicara benar dalam batas-batas sistem kelembagaan yang meniscayakan setiap orang berhak berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat. Bahkan, meski orang tersebut tak tahu benar batas-batas kebenaran yang ia ucapkan. Sebab, ia toh tak pernah memverifikasi bukti-bukti sebelum menyampaikan pernyataannya.

Meskipun dijamin oleh konstitusi, mestinya kebebasan untuk berbicara tak lantas berarti kebebasan menyatakan apa saja semaunya. Ada perbedaan antara menyampaikan kebenaran dan kenyinyiran. Disebutkan oleh Foucault, dalam Yunani klasik, kenyinyiran diistilahkan sebagai athuroglossos, terjemahan dari “mulut seperti mata air yang mengucur”. Hal tersebut merujuk pada orang yang gemar berbicara apa saja tanpa tahu kebenarannya.

Orang nyinyir seperti itu hampir selalu muncul dalam sistem demokrasi. Kebebasan berbicara tak selalu selaras dengan kebenaran. Itulah salah satu kritik Foucault yang disampaikan dalam Parrhesia. Rupanya, hal ini masih relevan dengan kondisi saat ini. Hoaks dan ujaran kebencian yang kini bertebaran di media sosial adalah buktinya.

Dalam konteks ini, merujuk analogi Yunani klasik tentang mulut, gigi, dan bibir sebagai filter atas kebenaran berwicara, mestinya “jika lidah tidak patuh atau menahan diri, kita dapat ... menggigitnya sampai berdarah.” (hlm. 68) Artinya, setiap orang harus mengubah hidupnya agar perkataan dan perbuatannya selaras dan mengandung kebenaran. (hlm. 119-120)

Nyatanya, hal itu tak mudah dan tentu membutuhkan keberanian. Sebagian dari kita, alih-alih menyuarakan kebenaran, memilih mau berbicara apa pun yang ingin didengarkan oleh orang lain. Meskipun itu adalah kebohongan belaka. Benarkah demikian?•fgs




Tulisan ini adalah versi lebih panjang dari resensi
yang dimuat pertama kali di Koran Jakarta pada 9 Agustus 2018.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar