Rabu, 11 Juli 2018

Gila


QAIS jadi majenun. Ia terpisah dari Layla. Semua mafhum kecuali raja. Ia penasaran. Secantik apa Layla gerangan hingga Qais tergila-gila dan sungguh-sungguh menggila.

Syahdan, Layla dihadirkan. Raja menilai, “Ternyata kecantikanmu biasa saja.”

“Itu karena,” jawab Layla, “matamu bukan mata Qais.”

Lihatlah, betapa Layla menyadarkan bahwa sudut pandang mungkin berbeda. Keberterimaan boleh jadi sesuai pengalaman. Hasrat ... ah, sudahlah, yang ini kita bicarakan lain kali saja.

Yang pasti, kita acap menilai liyan berdasarkan selera dan segala yang sesungguhnya hanya melekat pada diri kita. Kita gagal memahami bahwa semua itu tak serta-merta juga melekat pada selain kita. Agak aneh juga.

Bisa sampean bayangkan, merpati menganggap bodoh dan hina kerbau yang hanya dapat melenguh, berkubang lumpur, dan berjalan megal-megol pelan. Tak dapat terbang bebas sepertinya. Merdeka.

Siapatah tak pernah jatuh cinta? Begitu pun raja. Ia mungkin dapat mengerti derita Qais mengalami cinta. Namun, dapatkah ia sungguh merasakannya?

Nyatanya tidak. Bahkan, ia tak dapat mengindra kecantikan Layla. Lalu, bagaimana ia dapat sebenar-benar peduli?

Mungkin benar, cantik itu nisbi. Di sisi lain, kita toh tak pernah tahu isi hati raja sampai ia menyatakannya, bukan?

Saya jadi teringat keluhan kawan saya. “Istri saya masih sering mempertanyakan cinta saya kepadanya,” katanya, “ternyata perempuan masih perlu cinta yang dinyatakan.”

Saya tertawa. “Padahal, kami telah lama menikah dan mempunyai anak,” imbuhnya.

Kala itu, saya tak sempat menceritakan kisah ini kepadanya. Semoga nanti ia membacanya.

Akhirnya, raja bertanya, “Apakah cintamu sama besar dengan cinta Qais kepadamu?”

“Tidak,” jawab Layla, “justru cintaku yang lebih besar daripadanya.”

Raja heran. Tanyanya, “Bagaimana bisa?”

“Cintanya terejawantah, sedangkan cintaku tersembunyi,” jawab Layla.•fgs


Tidak ada komentar:

Posting Komentar