Sabtu, 30 Juni 2018

Surat Terbuka untuk Bu Khofifah


APA kabar, Bu Khofifah?

Senang ya Bu, akhirnya njênêngan dan Mas Emil—saya memanggilnya Mas Emil saja ya, Bu? Biar gayêng. Seperti moto njênêngan saat berkampanye itu lo, guyub kerjåné, gayêng rakyaté—memenangi Pilkada Jawa Timur melalui suara terbanyak. Saya ikut senang meski tak sampai menangis haru seperti njênêngan. Ndak åpå-åpå tå, Bu?

Kalau dipikir-pikir, saya ini termasuk fan njênêngan lo. Buktinya, saya membaca berita-berita tentang njênêngan. Bersumber dari berita-berita itu pula, saya jadi tahu, setidaknya 3 momen terkait jabatan yang membuat njênêngan menangis.

Pertama, saat njênêngan ditunjuk menjadi menteri sosial oleh Pak Jokowi. Pada Ahad Pon, 26 Oktober 2014, di Istana Negara, sambil berderai air mata, njênêngan mengatakan, “Saya nangis karena mendapat amanah yang harus saya pertanggungjawabkan dunia dan akhirat.”

Itu sungguh mengharukan, Bu. Tak banyak orang menginsafi bahwa sejatinya jabatan itu adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan fid-dunyā wal ‘akhirah. Berat lo, itu. Yang lain ndak akan sanggup. Biar njênêngan saja.

Kedua, njênêngan menangis saat memberikan sambutan di atas panggung ketika hendak berangkat mendaftar ke KPU Jatim. Itu terjadi pada 10 Januari 2018. Ketiga, kemarin saat hitung cepat lembaga survei menunjukkan bahwa perolehan suara njênêngan dan Mas Emil lebih banyak dibandingkan Gus Ipul dan Mbak Puti.

Tajuk di Jpnn.com begini: Bu Khofifah Menangis, Makin Haru saat Emil Ucapkan Doa. Tentu saja Emil yang dimaksud dalam hal ini adalah Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc., bukan Emil satunya meski ia sama-sama memenangi pilkada.

Jujur ya, Bu. Saya sebenarnya ndak terlalu kaget perolehan suara njênêngan unggul kok. Wong ini kali ketiga njênêngan mencalonkan diri. Selama itu pula, njênêngan berproses. Jadi, kalau sekarang menang, wés wayahé! Begitu bukan, moto lain njênêngan?

Saat njênêngan diberitakan menggelar syukuran bersama puluhan pengemudi ojek daring, sekali lagi saya ikut senang. Ndak ikut senang piye, wong ada calon gubernur yang pandai bersyukur kok? Bahwa hitungan resmi KPU belum ditetapkan, itu persoalan lain. Måsåk bersyukur saja harus ngêntèni pengumuman resmi apalagi menunggu menang?

Lo, ini serius, Bu. Bahkan kalah pun, selain harus diterima dengan ikhlas, perlu disyukuri juga. Wong itu ketetapan Gusti Allah kok. Itu pasti yang terbaik untuk kita. Bisa jadi Gusti Allah itu menghindarkan kita dari sikap zalim dan aniaya ketika kuasa. Kan begitu, Bu?

Lagi pula, hitung cepat sementara Pilkada Jawa Timur berdasarkan entri Model C1 yang dihimpun oleh KPU sampai dengan kemarin, pukul 17.29 WIB—meskipun baru selesai 97,08%—menunjukkan bahwa njênêngan mendapatkan 10.175.705 suara (53,62%). Itu jelas mengungguli Gus Ipul dan Mbak Puti yang mendapatkan 8.802.098 suara (46.38%). Hitungan cepat versi KPU itu tak jauh beda dengan hitungan Saiful Munjani Research and Consulting (SMRC), Lembaga Survei Indonesia (LSI), dan Indikator Politik Indonesia.

Oh ya Bu, sejak membaca surat ini, njênêngan sudah minum air putih hangat? Itu minuman favorit njênêngan tå? Santai saja, Bu. Månggå. Silakan ngunjuk dulu.

Omong-omong, njênêngan ndak suka minum kopi , Bu? Kata kawan-kawan saya, kopi itu paling nikmat diminum saat cangkrukan sambil merokok jêdhal-jêdhul. Klêpas-klêpus. Saya ndak merokok, Bu. Tahu sendiri, sejak 2010, Muhammadiyah sudah memfatwa bahwa merokok itu haram. Ah, tapi dengan atau tanpa fatwa itu, saya memang ndak merokok ding.

Soal pilkada Bu, bagi saya, ada yang selalu menarik diperhatikan dalam tiap-tiap penyelenggaraannya. Tingkat partisipasi masyarakat.

Mari kita ingat lagi, Bu. Tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada Jawa Timur pada 2008 hanya 59%. Sampai-sampai, Kompas.com memberitakan, “Pemilih Golput menjadi ‘pemenang’ dalam Pilkada Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 yang digelar 23 Juli 2008. Angka golput jauh melebihi perolehan suara lima kandidat yang bertarung dalam pilkada.” Itu kali pertama njenengan mencalonkan diri sebagai gubernur, bukan?

Pada 2013, tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada Jawa Timur tercatat 61%. Dua persen lebih tinggi daripada periode sebelumnya. Kali ini, 2018, masih berdasarkan hitung cepat KPU, tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada Jawa Timur tercatat 67,24%. Jumlah suara sah adalah 18.967.975 (96%) dan jumlah suara tidak sah 757.337 (3%). Sekali lagi, hitungan itu belum final.

Artinya, tingkat golput kita masih 32,76%. Itu baru dihitung dari jumlah orang yang tak memberikan suara. Persentasenya akan bertambah jika kita menjumlahkan data itu dengan suara tak sah.

Sebab Bu, golput itu, biar gampang kita mengelompokkannya, terdiri atas golput ideologis dan golput nonideologis. Kita sebut sebagai golput ideologis ketika seseorang sengaja membikin suaranya tak sah (misalnya, merusak surat suara, mencoblos semua gambar, atau menulis pesan perlawanan di kertas suara) atau sengaja tak hadir ke TPS, padahal namanya ada dalam DPT, memiliki kelengkapan administratif untuk memilih, dan mampu nyoblos. Tujuan mereka jelas: menyampaikan pesan perlawanan. Baik moral, intelektual, maupun spiritual.

Golput jenis ini tak begitu saja percaya bahwa suaranya dapat serta merta mengubah segalanya selama 5 tahun ke depan. Omong kosong. Kok kåyå sulapan saja. Ada banyak hal yang menjadikan perubahan menjadi mungkin terjadi. Misalnya, kelompok kepentingan (interest group) dan kelompok penekan (pressure group) istikamah dalam mengartikulasikan kepentingan rakyat. Lalu, supremasi hukum. Banyak lainnya. Bukan cuma urusan nyoblos. Kalau hanya urusan itu, kambing jantan juga bisa.

Bagi golput ideologis, yang terpenting memang bukan partisipasi selama 5 menit dalam bilik TPS itu, tetapi partisipasi dalam mengawal pemerintahan selama 5 tahun ke depan. Sebab, sejatinya, dalam kurun waktu itulah masa depan rakyat justru sedang dipertaruhkan.

Itulah Bu, siapa bilang golput bukan pilihan? Dalam sistem demokrasi, golput jelas sebuah alternatif. Golput sesungguhnya merupakan sikap warga negara yang bertanggungjawab. Mereka tak mau menjadikan masa depan bangsa sebagai ajang coba-coba. Mereka tak sudi menyerahkan kepemimpinan kepada perusak lingkungan, tengkulak neo-liberalisme, koruptor, orang yang hanya memperturut syahwat, dan seterusnya. Pada aras ini, golput boleh jadi merupakan bentuk ketakpercayaan publik (public distrust) dan bahkan pembangkangan sipil (civil disobedient).

Nah, sedangkan golput nonideologis adalah seseorang yang tak memberikan suara karena argumentasi nonideologis. Misalnya, malas berangkat ke TPS dan alasan-alasan lain yang dalam istilah kawan saya disebut sebagai alasan yang ndak syar’iyah.

Kadang saya juga masih bimbang kok Bu, lebih baik mana antara golput nonideologis dengan partisipasi simbolik nonelit? Ah, itu pertanyaan nonesensial ya, Bu?

Apa pun itu, golongan-golongan tersebut berpotensi menjadi oposan. Termasuk dalam hal ini adalah oposan yang... ya, paling-paling menjadi apatis dan malas nyoblos pada 5 tahun mendatang.

Yang pasti, saatnya njênêngan dan Mas Emil merealisasikan janji-janji. Kerja jujur, Jawa Timur teratur dan kerja bersama untuk Jatim sejahtera itu mestinya kan ndak hanya indah saat masa kampanye , Bu? Rakyat pasti menanti dan (akan) menagih janji.

Jangan hanya menangis ya, Bu. Apalagi di depan awak media. Menangislah di kesunyian bersama-Nya dan gunakan kuasa sebesar-besarnya untuk rakyat.

Jangan buat rakyat menangis juga. Yakinkan mereka bahwa pemilu bukan sekadar pembikin pilu.

Sekian dulu inggih, Bu. Lama saya tak menulis surat panjang begini. Terakhir kali saya lakukan pada belasan tahun lalu. Untuk pacar saya. Sama. Intinya, kalau bukan karena sayang, mana mau saya melakukannya.

Sekali lagi, selamat ya, Bu...•fgs




Tidak ada komentar:

Posting Komentar