Sabtu, 09 Juni 2018

Mari Tertawa Sesuai KBBI


SEJAK 7 Juni 2018, kemarin lusa, saya kembali bertugas di Tuban. Tak terasa, 6 bulan saya melaksanakan tugas perbantuan di Lamongan. Rasanya, baru minggu lalu saya berkeliling kota. Memetakan wilayah tugas. Sepertinya baru beberapa hari ini saya ajek membeli segå boranan di depan Hotel Elresass sepulang kerja dan berbincang dengan penjualnya sebelum balik ke indekos.

Kemarin lusa pagi, 06.36 WIB, Ustaz Is telah sampai di indekos saya dengan mobil minibus putihnya. Barang-barang saya masukkan bagasi. Tak semua barang milik saya. Ada barang milik kantor Lamongan yang dihibahkan kepada kantor Tuban. Kertas plano 1 rim dan sekardus ATK. Saat pindah ke Lamongan dulu, barang-barang saya lebih banyak. Di antaranya ada 2 kardus berisi buku dan 1 kardus berisi arsip. Tiga kardus itu telah saya bawa ke Mojokerto 2 minggu yang lalu.

Saya meninggalkan Lamongan pada 06.56 WIB. Satu jam lebih 6 menit kemudian, saya telah sampai di indekos saya di Tuban. Indekos tempat saya tinggal dulu. Di kamar yang sama pula.

Sorenya, saya, istri, dan Mas Dhaya ikut berbuka puasa bersama kawan-kawan kantor. Bukber ya, istilahnya. Tiga hari terakhir ini, tiap hari saya ikut bukber. Alhamdulillah, belum bosan juga. Selain menu berbuka yang luar biasa, canda tawa di sana-sini itulah yang membuatnya istimewa.

Tawa. Bagaimana menuliskan ekspresi dan tiruan bunyinya dalam bahasa Indonesia baku? Ger, geerr, dan pelbagai kombinasinya? Ada yang lain. Hahaha. Wkwkwk. Hehehe. Hihihi. Hohoho. Heuheuheu. Macam-macam. Bahkan ada yang disingkat: hhh. Teknologi perpesanan berbasis teks melalui SMS, WA, dan sebagainya menjadikan berbagai-bagai kombinasi itu berterima.

GA, kawan saya yang hampir selalu tertarik membincang bahasa, mengatakan, “Aku sekarang pakai yang baku, Mas. Ha setrip ha setrip ha. Bukan hahaha atau wkwkwk.” Saya tersenyum. “Kompas ada yang nulis gitu juga, Mas. ‘Ha-ha-ha.’ Berarti aku sudah bener,” lanjutnya.

Itu salah satu yang saya suka darinya. Ia lucu. Ia selalu bersemangat. Ia fan Ivan Lanin.

Bahasa kita memungkinkan pertumbuhan banyak tiruan bunyi selain bunyi tawa. Misalnya, kriiing...!, kriuuuk, dor, blaaar, tik-tik-tik, tuk-tuk-tuk, tok-tok-tok, sret, slruuup, crok, krak, tiiin, sampai ssst!. Baku? Tidak. Semua teks tiruan bunyi itu terikat oleh konteks wacana yang kita tulis atau baca. Lain kali kita bahas soal ini.

Lalu, soal ha-ha-ha tadi. Tersua dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa ha adalah partikel untuk menyatakan girang, mengejek, menyatakan rasa lega, dan menyatakan terkejut. Ha juga dapat berfungsi sebagai tiruan bunyi orang tertawa lepas. Dalam aras ini, cukuplah ditulis ha saja.

Salahkah menulis ha-ha atau ha-ha-ha?

Bandingkan antara mama muda dan mama-mama muda. Yang kedua menunjukkan bahwa secara kuantitas lebih banyak. Tak selalu berarti yang kedua secara kualitas lebih cantik, ya. Begitu juga ha-ha. Nah, saya menduga, penulis ha-ha-ha ingin menunjukkan tawa yang lebih dari sekadar ha-ha. Sah saja.

Mengatasi itu semua, apatah tertawa sama dengan gembira, gembira berarti bahagia, dan bahagia sebangun dengan syukur?•fgs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar