Minggu, 24 Juni 2018

Linux Mint 18.3 Cinnamon Gagal Booting


AKHIRNYA, saya memberanikan diri menginstal sendiri sistem operasi diska berbasis Linux di laptop saya. Bertahun-tahun saya memakai Windows. Semua varian Windows pernah saya coba. Saya memutuskan hijrah ke Linux karena sistem operasi ini merupakan sumber terbuka. Ringan. Linux dapat diinstal di komputer dengan spesifikasi rendah sekalipun.

Ada beragam sistem operasi berbasis Linux. Sebagai pemula, saya pilih Linux Mint 18.3 Cinnamon. Itu varian yang paling mirip dengan Windows. Saya berharap, saya tak menemu banyak kesulitan karenanya.

Sebelumnya, saya pernah menginstal sendiri hampir semua versi Windows. Saya pikir, pengalaman itu cukup menjadi bekal. Ternyata, tak 100% benar. Kemarin, saya baru (agak) berhasil pada instalasi keempat. Saya kurang puas. Tampak dalam monitor, ada 2 sistem operasi diska yang sama tertanam di dalam laptop saya. Itu lewah. Masalah berpokok pada salah partisi, saya kira.

Partisi di Linux agak berbeda dengan Windows. Sekurang-kurangnya terdiri atas 2 partisi, yaitu /swap dan / (root). Instalasi akan lebih baik lagi jika ditambah /home. /swap kira-kira berfungsi sebagai RAM virtual. Besarannya sebaiknya 2 kali RAM yang sampean pakai. Sedangkan, / berfungsi sebagai drive C: di Windows, yaitu tempat sistem operasi dan semua aplikasi tersimpan.

/home berfungsi sebagai tempat menyimpan semua files sampean. Jika sampean menyediakan ruang khusus untuknya, saat sampean menginstal ulang sistem, sampean tak perlu khawatir files sampean terhapus. Kalau sampean ndak mau repot menyediakannya pun tak apa. Yang penting, sebelum menginstal ulang, pastikan semua files telah dicadangkan.

Sejak siang, saya mencoba berkali-kali menginstal ulang. Mungkin 6 kali. Tak berhasil juga. Semua panduan telah saya baca. Seluruh langkah telah saya coba. Nihil.

Linux Mint 18.3 Cinnamon 64-bit memang telah tertanam dalam laptop saya. Namun, ketika dilakukan prosedur restart, monitor gelap beberapa saat, disusul dengan munculnya logo Linux Mint dan deretan bahasa program berwarna hijau yang entah apa. Terus begitu.

Saya restart ulang. Berkali-kali. Sama saja. Intinya, gagal booting!

Sebuah sumber daring menyebutkan bahwa hal itu akibat kerusakan perangkat keras pembaca diska. Saya tak terlalu mengerti.

Menjelang pukul 16.00 WIB, saya tercerahkan. Halah.

Saat restart, sekali-dua kali, kita akan diarahkan ke GNU GRUB. Ada 2 pilihan di dalamnya:
(1) *Linux Mint 18.3 Cinnamon 64-bit
(2) Advanced Options for  Linux Mint 18.3 Cinnamon 64-bit.

Sebelumnya, saya pilih nomor 1. Tampilan terus berulang. Maka, åjå sampean tiru. Pilihlah nomor 2. Sampean akan diberi 3 pilihan setelahnya:
(a) … generic,
(b) … generic (upstart),
(c) … generic (recovery mode).

Kali ini, pilihlah recovery mode. Selesai?

Hampir. Linux berjenis generik (ha-ha) akan berproses. Tunggu beberapa detik. Berikutnya, akan muncul kotak dialog lagi. Kali ini ada banyak menu, yaitu: resume, clean, dpkg, fsck, grub, network, root, dan system-summary.

Pilih resume. Kotak dialog yang sama akan muncul lagi. Tak perlu khawatir. Pilih resume lagi. Tiga detik kemudian, di layar sampean akan muncul desktop khas Linux Mint.

Masukkan password yang telah sampean atur saat instalasi. Dan, selamat menikmati  sistem operasi diska berbasis Linux. Asli, bukan bajakan, tak berbayar, dan … eh, mungkin MUI mau membuat sertifikasi halal atasnya?•fgs


Tidak ada komentar:

Posting Komentar