Senin, 12 Maret 2018

Celetukan Editor Tempo






BERDASARKAN pengalaman hampir 30 tahun menjadi editor, Uu Suhardi, penulis buku ini, berkesimpulan bahwa “masalah dalam bahasa Indonesia sebenarnya persoalan mudah, tapi kerap menjadi sulit karena dibikin rumit atau justru digampang-gampangkan”. Lebih lanjut, koordinator redaksi bahasa di grup Tempo ini menyimpulkan bahwa di antara pelbagai masalah kebahasaan itu, yang terbanyak adalah kesalahkaprahan.



Agar laras dengan kecenderungan zaman, mulanya penulis bahas pelbagai kesalahkaprahan itu dalam kalimat pendek yang ia unggah di linimasa media sosial Twitter pada 2014-2016 dan di Facebook mulai akhir 2016. Ia menyebut unggahannya itu sebagai “celetuk”.

Celetuk penulis di Facebook itulah yang kemudian dibukukan oleh Pusat Data dan Analisa Tempo dengan tajuk Celetuk Bahasa: Mengungkap 100+ Salah Kaprah. Ivan Lanin, wikipediawan dan peneroka bahasa Indonesia daring, menilai bahwa melalui penerbitan buku tersebut, pengetahuan kebahasaan yang tadinya hanya dapat dinikmati oleh rekan dan pengikut penulis di media sosial kini disusun dengan lebih sistematis dan dapat lebih luas tersebar.

Penulis membagi bukunya dalam 8 pokok bahasan, yaitu: baku, ejaan, imbuhan, lesap, lewah, makna, serapan, dan ilustrasi. Namun, itu bukanlah struktur penyusunan buku. Celetuk tak dikelompokkan berdasarkan pokok bahasan itu. Layaknya gaya celetuk, bahasan sengaja dibiarkan mengalir begitu saja, santai, dan bahkan tak jarang dibumbui gurauan. Ini membuat pembaca lebih mudah memahami tanpa merasa digurui. Dalam bahasan baku misalnya, penulis menjelaskan bahwa pasangan “antara” adalah “dan”, bukan “dengan”. Agar mudah diingat, ia mengajak pembaca untuk mengingat lagu Antara Anyer dan Jakarta atau Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu. (hlm. 5)

Logika berbahasa tak luput dari perhatian penulis. Ia mencontohkan, “Naik busway” itu keliru karena busway bukan bus melainkan jalur bus. Contoh lain, pedestrian berarti pejalan kaki, jadi sungguh aneh kalau kita mengatakan “berjalan di atas pedestrian”. (hlm. 58)

Hal lain yang jarang diketahui orang dan acap dibahas oleh penulis adalah pengaruh asal-usul kata atau etimologi terhadap bentuk baku suatu kata. Misalnya, bentuk yang baku itu “komplet” karena diserap dari bahasa Belanda, compleet (yang dilafalkan “komplèt”), bukan dari bahasa Inggris, complete (yang dilafalkan “komplit”). (hlm. 150)

Kegemaran penulis terhadap sepak bola kerap mewarnai celetuknya. Misalnya, saat menjelaskan kelewahan berbahasa, ia mencontohkan, “Real Madrid akan saling berhadapan dengan Atletico Madrid malam ini.” Kata saling dalam kalimat tersebut lewah karena kata berhadapan telah menunjukkan keberadaan dua pihak. (hlm. 141)

Melalui buku ini, kita menginsafi bahwa dalam keseharian kita banyak kesalahkaprahan berbahasa bertebaran, baik dalam ragam tulis maupun lisan. Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan kita dalam berbahasa secara baik dan benar masih rendah. Belum semua orang memahami makna baik dan benar dalam berbahasa. Kecenderungan masyarakat, terutama kaum muda, untuk mencampuradukkan kata dengan istilah asing semakin memperumit persoalan.

Sebenarnya, bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, secara pragmatis, bahasa harus berfungsi efektif dalam menyampaikan maksud kepada teman bicara. Karenanya, kesesuaiaan ragam bahasa terpilih menjadi penting.

Dalam semua ragam bahasa Indonesia, sebenarnya kata baku dan lafal baku adalah ciri bahasa baku yang paling sulit. Dalam aras ini, 159 celetuk penulis yang dimuat di dalam buku ini dapat menjadi pencerah yang mengasyikkan bagi pembaca.

Sebagai buku bahasa, buku ini bukan berarti tanpa kesalahan. Di pagina 70 tersua contohnya, “Sebagai ayah, saya kerap meneladani si bungsu, Tapi, dalam beberapa hal, saya meneladan dia.” Penulisan tapi dalam contoh itu kurang tepat. Mestinya, pilih “Sebagai ayah, saya kerap meneladani si bungsu, tapi dalam beberapa hal, saya meneladan dia.” atau “Sebagai ayah, saya kerap meneladani si bungsu. Namun, dalam beberapa hal, saya meneladan dia.”

Akhirnya, melalui buku ini, penulis berhasil meyakinkan pembaca bahwa bahasa Indonesia sebenarnya mudah dan menyenangkan dipelajari. Mungkin, benarlah kata pepatah, alah bisa karena biasa. Jika bukan penuturnya, siapa lagi yang akan peduli terhadap bahasa Indonesia?•fgs



Tidak ada komentar:

Posting Komentar