Selasa, 18 April 2017

Merawat Ingatan tentang Mbah Kakung



Mbah, Irma janji, suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang Mbah Kakung…”. Begitulah janji Irma Devita kepada Rukmini, neneknya. Meskipun waktu itu, dia tak tahu caranya. Dia masih belia. Tapi, tujuannya mulia. Irma berharap bahwa dengannya perjuangan kakeknya, mbah kakung-nya dalam bahasa Jawa, dapat dikenang. Generasi kini dan mendatang beroleh warisan keteladanan.



Rupanya Irma tak lupa. Novel Sang Patriot adalah wujud pemenuhan atas janjinya itu. Menurut pengakuannya, novel tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata dan telah melalui riset yang cukup panjang (hlm. ix). Irma tak menjelaskan lebih lanjut. Tetapi beruntung, istri kawan saya, R.Z. Hakim, membuka cerita. Sebelum menulis novel, Irma telah menelusuri data-data lama dan mewawancarai banyak orang. Di antaranya, Lettu Suroso, dr. Halim Danuatmodjo, Letjen Purbo S. Suwondo, dan Mayjen (Purn) Suhario Padmowirjono. Masih banyak yang belum dia sebut.
Irma sengaja menuliskan cerita kepahlawanan kakeknya, Letkol. Mochammad Sroedji, dalam bentuk novel. Sebuah pilihan jitu, saya kira. Novel lebih menjanjikan keluwesan bertutur dibandingkan disiplin sejarah. Jauh dari kesan berat karena sarat angka dan fakta. Selain itu, dewasa ini novel sejarah kembali mendapatkan tempatnya di dunia sastra. Banyak yang meminatinya.
Dalam novel Sang Patriot ini, Irma Devita berhasil secara lugas dan juga ringan menceritakan sisi-sisi lain perang kemerdekaan Indonesia pada 1942-1949. Dia membagi novel yang terdiri atas 252 halaman pokok ini menjadi 24 Bab. Beberapa bab dia bagi lagi dalam beberapa subbab. Menariknya, sebagian besar judul subbab tersebut berupa keterangan tempat dan waktu. Misalnya, Kampung Kauman, Gurah – Kediri, 1923 (hlm. 3) dan Karang Kedawung, 8 Februari 1949 (hlm. 233).
Judul berangka tahun itu segera membuat saya menduga bahwa novel ini ditulis menggunakan alur maju. Urut sesuai pembabakan waktu. Nyatanya, saya salah. Novel ini menggunakan alur campuran. Prolognya bertutur tentang jasad Sroedji yang terbujur kaku. Itu terjadi pada Februari 1949. Lalu, pembaca diajak mundur ke tahun 1923. Di Kauman, Gurah, Kediri, tepatnya. Tempat Hasan dan Amni, orang tua Sroedji, hidup setelah meninggalkan Bangkalan, Madura. Saat itu, Sroedji sekira 8 tahun umurnya.
Selanjutnya, Irma menceritakan soal Sroedji yang semangat sekolah. Boleh dibilang terlalu semangat malah. Kesan ini menguat karena Irma sampai berulang kali menyebutnya. Setidaknya di halaman 10, 11, 12, dan 14. Dan Sroedji memang akhirnya berhasil mengenyam pendidikan di sekolah berbahasa pengantar Belanda. Hingga kemudian, Sroedji berhasil lulus dan menjabat sebagai mantri malaria di RSU Kreongan. Sroedji kemudian menikahi Rukmini, putri priayi, dan mempunyai putra dan putri.
Saat Jepang membentuk PETA, Sroedji dan kebanyakan mantan anggota Hizbul Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah, bergabung. Mereka menjadi perwira terlatih. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Sroedji dan perwira-perwira lain segera bergabung menjadi tentara republik dan gencar bergerilya. Badan Keamanan Rakyat (BKR), namanya. Cikal bakal TNI sekarang.
Pada aras ini, Irma berhasil menggambarkan perang secara detail. Pembaca dibuat hanyut dengan kepiawaiannya bertutur. Cerita memang belum usai. Dikisahkan, Sroedji dan pasukannya memenangkan pertempuran demi pertempuran. Irma mengisahkan juga soal pertempuran di Surabaya pada November 1945 dan tragedi gerbong maut.
Kemenangan pasukan Sroedji disebabkan setidaknya oleh kepemimpinan Sroedji dan semangat juang pasukan. Sroedji selalu dapat menyemangati pasukannya. Ia tak menampilkan diri sebagai pemimpin yang gila hormat. Ia hadir di tengah pasukan. Ia duduk bersama para prajurit, mendengar keluh mereka, lalu menyuntikkan semangat untuk menang (misal, hlm. 210). Tak ada kesan eksklusif. Biasa saja. Saat sakit pun, Sroedji berkeras untuk memimpin pasukan (hlm. 220-224). Ia berada di garis depan. Pada aras ini, mestinya pemimpin, juga semua saja, dapat berkaca.
Tapi, mata-mata. Ya, mata-mata. Dari bangsa sendiri pula. Irma beberapa kali menyinggungnya. Di antaranya di halaman 161-163, 196-197, 210, dan 251. Itu yang membuat Sroedji, Komandan Brigade III Devisi I, dan pasukan elitnya terjebak. Ia dan sahabatnya, Letkol. dr. R.M. Soebandi, juga hampir seluruh pasukannya gugur dalam pertempuran di Karang Kedawung pada 8 Februari 1949.
Saya tak mengira, sesekali Irma masih dapat menyisipkan bahasa puitis, nyastra. Baca di halaman 104 sebagai contohnya. Irma membuka cerita dengan: “Kodok riuh memperdengarkan nyanyian, saling bersahutan seolah merayakan pesta kemenangan. Anak jangkrik dan induknya tidak kalah seru menimpali senja yang syahdu.” Ini tentu menggugurkan anggapan sebagian orang bahwa memasukkan unsur realitas ke dalam karya sastra menjadikan karya tersebut kering. Saya setuju dengan Pramoedya Ananta Toer, salah satu pengusung realisme sosial dalam sastra. Menurutnya, keindahan karya sastra bukan terletak pada kemampuan pengarang dalam mengutakatik bahasa, melainkan aspek kemanusiaannya.
Irma juga pandai mengaduk-aduk emosi pembaca. Beberapa bagian dalam novelnya ini bahkan mampu membuat mata berembun. Misalnya, saat Rukmini membohongi putranya yang sakit dan ingin makan nasi putih. Juga saat Rukmini menyaksikan sendiri pusara suaminya (hlm. 250).
Dan, seperti telah saya sampaikan, dalam novel ini, Irma tak hanya menyuguhkan detail perang. Sisi lain perang dia tulis secara sangat apik. Saya menyebut sisi lain perang untuk semua hal kecuali perang itu sendiri. Novel ini kaya nilai, atau setidaknya informasi, tentang peradaban, perjuangan, persahabatan, kesetiaan, keberagamaan, nasionalisme, dan juga percintaan. Masing-masing sebenarnya menarik untuk dikaji lebih lanjut, seperti dalam novel-novel sejarah karya pendahulunya: Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya, dan Remy Sylado.
Soal gender, misalnya. Oleh Irma, pembaca novel ini diajak memahami situasi saat itu dengan cerita soal ketakmampuan Rukmini melawan budaya. Perempuan tak perlu sekolah tinggi. Toh dia hanya ada di ruang privat; kasur, sumur, dan dapur; bukan publik. Perempuan yang terlalu pintar akan menakutkan bagi suami. Perempuan macam ini dikhawatirkan sulit jodoh dan karenanya mempermalukan orang tua. Maka, cita-cita Rukmini untuk meraih gelar sarjana hukum pun harus kandas. “Sayang sekali dia perempuan. … Seandainya dia laki-laki, tentunya akan kusekolahkan setinggi mungkin,” sesal bapak Rukmini. Bagaimana lagi, ia juga tak kuasa menghadapi budaya (hlm. 23, 26-27).
Tetapi, perempuan mestinya memang harus pintar. Berikutnya, hubungan suami-istri bukan berdasar relasi kuasa, melainkan kesetaraan. Perempuan yang pintar dan terdidik menentukan sintasitas keluarga dalam menghadapi hidup yang tak tentu. Soal itu disampaikan Irma melalui cerita kecerdasan Rukmini. Sebagai istri, Rukmini adalah teman diskusi suaminya. Dalam kondisi serbasulit, dialah yang justru memiliki peran dominan. Sroedji yang tengah berjuang tak dapat selalu mendampinginya. Beberapa kali Rukmini terpaksa menjual perabot dan kainnya. Pada tahun-tahun sebelum masa sulit, Rukmini memang telah berpikir bahwa kain pun dapat bernilai investasi. Tentu saja dengan motif tertentu (hlm. 24-25).
Sisi religiositas dalam novel ini juga tak kalah menarik. Irma berkisah bahwa Sroedji, Rukmini, juga bapak-ibu mereka adalah penganut Islam yang taat. Rukmini rajin mendoa. Sroedji juga. Bahkan dalam keadaan perang, Sroedji tak lupa salat (hlm. 219). Tentang Sroedji, orang tuanya memang telah memberikan dasar keagamaan yang cukup. Semasa kecil, Sroedji belajar mengaji kepada Kiai Dullah, pemuka agama lulusan Perguruan Muhammadiyah asuhan K.H. Ahmad Dahlan.
Dari Kiai Dullah pula, Sroedji belajar soal perjuangan dan cinta tanah air. Kiai Dullah selalu menanamkan nilai-nilai itu melalui cerita tentang Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Agung, Umar bin Khattab, dan lainnya. Ini mengingatkan kita kepada peran Kiai Mojo dalam Perang Diponegoro. Dan berhasil. Sroedji terinspirasi. Dalam permainan perang-perangan, Sroedji kecil selalu memerankan Diponegoro. “Dor! Dor! Kena! Mati kamu Belanda!” teriaknya (hlm. 5-6). Sikap antipenjajahan, semangat juang, dan jiwa kepemimpinan ini terbawa hingga Sroedji dewasa.
Semangat antipenjajahan juga memengaruhi sikapnya dalam hal berbahasa. Sroedji berpesan kepada istrinya agar semua putra-putri mereka tak menggunakan bahasa Belanda. Kata Sroedji, “Kita hidup di tanah Jawa, Bu … Anak kita harus diajari bicara bahasa Jawa untuk komunikasi sehari-hari, bukan bahasa penjajah, dan bukan juga bahasa Madura… (hlm. 35)“
Mungkin karena itu, dalam novel ini banyak dialog berbahasa Jawa. Hanya ada satu dialog berbahasa Madura, saat Rukmini menolak menikah, dan itu pun kurang tepat. Disampaikan oleh Rukmini, “Nyoon saporah, Pak. Delem ta poron abineh… (hlm. 26)” Abineh berarti beristri. Mestinya, tokoh Rukmini dalam novel ini menggunakan kata a lakeh atau lebih tepat lagi a rakah dalam kalimat penolakannya itu.
Saat menceritakan perlawanan Rukmini yang dikira Cina oleh teman-temannya, sebenarnya Irma dapat menggunakan dialog berbahasa Madura (hlm. 129). Toh, di halaman berikutnya, Irma menjelaskan bahwa teman-teman dibuat yakin bahwa Rukmini bukanlah Cina seperti sangkaan mereka setelah Rukmini membentak mereka menggunakan bahasa Madura dengan dialek lokal yang kental. Mungkin saja, Irma lebih menguasai bahasa Jawa daripada bahasa Madura.
Namun, dalam dialog berbahasa Jawa, ada salah tulis sedikit. Pertama, kerancuan dalam menulis d dan dh. Soebandi selalu dipanggil Ndhi atau Bandhi (misalnya, hlm. 89), kecuali di halaman 220. Kudu tertulis khudhu (hlm. 79). Kedua, penulisan a dan o juga banyak tertukar. Misalnya, masak dijarna ae tertulis mosok dijarno ae (hlm. 75). Dalam bahasa Jawa, a dan o harus tepat penggunaannya. Salah-salah bisa berbeda makna. Contoh, lara (sakit) dan loro (dua). Pelafalan a seperti o dalam kata topi, sedangkan o sendiri dilafalkan seperti menyebut kata bola. Tapi, ini hampir merupakan kesalahan umum, saya kira. Bukan hanya Irma.
Selain soal itu, salah ketik, salah ejaan, lompatan narasi, salah logika, dan salah kata adalah beberapa kekurangan lain dalam novel ini. Banyak kata yang seharusnya diawali huruf kapital terketik huruf kecil dan sebaliknya. Contoh, Desa Pakisaji tertulis desa Pakisaji (hlm. 140). Di sebagai awalan yang seharusnya ditulis serangkai justru ditemukan terpisah dari kata dasarnya. Contoh, di ikuti, di pimpinnya, dan di minumkan di halaman 141. Seharusnya ditulis: diikuti, dipimpinnya, dan diminumkan. Tradisional masih tertulis tradisionil (hlm. 141). Jenderal tertulis jendral (misalnya, hlm. 5, 41, 45, dan 137). Kiai juga tertulis kyai (misalnya, hlm. 139).
Salah kata terdapat di halaman 18. Tertulis, “Kapal berlabuh pelan meninggalkan pelabuhan di iringi (sic) dengan lambaian para pengantar.” Berlabuh secara leksikal berarti berhenti atau menurunkan sauh. Agar tepat, kata berlabuh dalam kalimat itu dapat diganti dengan berlayar.
Kesalahan lain dalam novel ini tercermin dalam cerita ketepatan analisis Sroedji mengenai lokalisasi pasukan republik melalui Perjanjian Renville (hlm. 134). Namun selanjutnya, melalui monolog dalam hati, tokoh Sroedji menyampaikan bahwa itu adalah buah pikir Rukmini (hlm. 154). Ini mirip dengan salah sebut lainnya. Dikisahkan bahwa Sroedji masuk Kompi 1 Chuudancho yang dipimpin oleh Lettu Nomura Shohichi yang juga merangkap sebagai pelatih (hlm. 49). Masih di paragraf yang sama, tiba-tiba disebutkan bahwa Sroedji selalu menyimak dan melaksanakan instruksi Si Kopral pelatihnya. Besar kemungkinan, yang Irma maksud dengan Si Kopral adalah Kopral Nishikawa (hlm. 52).
Soal lain, disebutkan bahwa Desa Pakisaji adalah bagian dari Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang (hlm. 140). Kondisi geografis saat ini, Pakisaji adalah kecamatan tersendiri yang memang berbatasan dengan Kepanjen. Ampelgading yang juga disebut sebagai kampung di novel ini (hlm. 190), sekarang adalah nama kecamatan di wilayah Malang Selatan. Maka, secara administratif, Desa Pakisaji dan Kampung Ampelgading pada periode yang diceritakan dalam novel ini perlu dicek kembali.
Salah ketik terdapat di beberapa halaman. Kangean terketik Kagean (hlm. 14). Tahu terketik tau (hlm. 18). Satu per satu terketik sat per satu (hlm. 56). Juga soal kepangkatan. Tertulis, “Brigadir Mayor Imam Sukarto mengambil alih kemudi Brigade Damarwulan (hlm. 251)”. Mungkin yang dimaksud adalah Mayor Imam Sukarto. Sebelumnya ia memimpin brigade yang diberi nama Brigade Mayor Imam Sukarto, bagian dari Brigade Damarwulan. Berdasarkan pelbagai sumber, tak ada pangkat brigadir mayor dalam sejarah TNI.
Catatan terakhir saya soal salah ketik, ada kesalahan atas syair lagu Di Timur Matahari karya W.R. Soepratman. Terketik seluruh pemuda Indonesia. Seingat saya, yang benar adalah pemuda pemudi Indonesia. Entahlah, saya tak punya teks asli lagu yang kabarnya digubah pada 1931 ini. Yang pasti, saya agak meragukan tentang arak-arakan warga pengiring jenazah Sroedji yang serentak menyanyikan lagu tersebut tanpa dikomando. Keraguan saya bisa saja tak terbukti benar. Tapi ada dugaan lain, itu hanyalah alegori yang dibuat oleh Irma. Saya tak tahu.
Ya, novel ini masih memiliki kekurangan. Tetapi bukan berarti novel ini tidak menarik dan tak penting dibaca. Kekurangan-kekurangan itu tak sampai mengganggu keutuhan kisah apalagi mengurangi keterpukauan pembacanya. Seperti kata Arief Budiwidayanto, “Novel yang bagus. Alurnya yang lancar membuat orang ingin terus membaca. … Salut! Jempol buat Irma.” Pujian itu sungguh tak berlebihan.
Novel Sang Patriot ini oleh Irma didedikasikan untuk Rukmini, neneknya yang mulia dan berhati sekeras baja (hlm. v). Demi mengabadikan kisah mbah kakung-nya, Letkol. Mochammad Sroedji, dan patriot lainnya. Juga demi menunaikan janji masa kecilnya kepada Sang Nenek. Dan saya pikir, dua hal itu telah dicapai oleh Irma secara paripurna.•



*Artikel ini pernah dipublikasikan di https://makgradak.wordpress.com/2014/05/12/merawat-ingatan-tentang-mbah-kakung/ pada 12 Mei 2014 untuk diikutsertakan dalam lomba review novel Sang Patriot


Tidak ada komentar:

Posting Komentar