Kamis, 13 Oktober 2011

Gentong Retak pun juga Bermanfaat


Saya memiliki seorang kawan yang oleh masyarakat dipercaya menjadi seorang Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD). Dia meyakini bahwa profesi sebagai kader pemberdaya tak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Karena, profesi tersebut menuntut kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan profesi lainnya. Baginya, seorang kader pemberdaya tak hanya harus menguasai beberapa ilmu, tetapi juga harus rela membagi ilmu itu demi kebaikan semua. Sampai dengan tahap ini, saya kira semua masih okey atau bahkan boleh dikata: luar biasa!
Namun akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengar cerita dari kawan yang lain bahwa kawan saya yang kader pemberdaya itu enggan memfasilitasi masyarakat. Jika dipaksa dan didampingi oleh kawan-kawannya, barulah dia mau pergi berkegiatan, kunjungi kelompok perempuan misalnya.
Kemarin, kawan saya itu menyampaikan kepada saya penyebabnya. Dia merasa bahwa dia selalu tak sempurna dalam melaksanakan tugasnya. Ada saja yang kurang. Hal itu menjadikannya tak lagi percaya diri.
Untung saja saya teringat kisah gentong retak yang pernah disampaikan dalam pelatihan peningkatan kapasitas fasilitator kecamatan pada 26 Juli 2010. Kisah gentong retak itu lalu saya ceritakan kepada kawan saya. Berikut kisahnya.
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemikul air yang mempunyai dua buah gentong besar. Oleh Si Pemikul Air, kedua gentong itu digantungkan pada sebatang bambu untuk dipikulnya. Si Pemikul Air menyadari bahwa salah satu gentong itu retak. Namun, ia tak menggantinya. Ia tetap menggunakannya untuk memikul air ke rumah majikannya.
Gentong utuh selalu dapat bekerja dengan baik dan membawa segentong penuh air pada akhir perjalanan panjang dari sungai hingga rumah majikan si pemikul, sedangkan gentong yang retak hanya berhasil membawa pulang setengah gentong air.
Hal ini terus terjadi selama dua tahun. Dari hari ke hari, Si Pemikul Air hanya dapat mengantarkan satu setengah gentong air ke rumah majikannya. Tentu, Gentong Utuh  merasa bangga atas keberhasilannya, sedangkan Gentong Retak merasa malu dan sedih atas kekurangannya.
Tak tahan atas situasi itu, Gentong Retak pun meminta maaf kepada Si Pemikul Air.
Wahai Pemikul Air, maafkan kekuranganku selama ini,” kata Gentong Retak.
Mengapa kamu harus meminta maaf, Gentong Retak?” tanya Si Pemikul Air
Gentong Retak mulai meneteskan air mata. Terbata-bata dia menjawab, “Gara-gara tubuhku retak, selama dua tahun ini aku hanya dapat membawakan setengah gentong air. Air yang kubawa menetes di sepanjang jalan menuju rumah majikanmu.”
Si Pemikul Air tersenyum. Dengan sabar, ia berkata, “Nanti, saat kita kembali ke rumah Pak Majikan, perhatikanlah bunga-bunga yang indah di sepanjang jalan.“
Benar! Di sepanjang jalan menuju rumah Pak Majikan, Gentong Retak melihat bunga-bunga indah yang hangat oleh sinar matahari. Sejenak, hati Gentong Retak terhibur. Tetapi, ketika tiba di rumah Pak Majikan, Gentong Rusak kembali sedih karena lagi-lagi air yang dia bawa tinggal separuh. Sisanya menetes di sepanjang jalan. Gentong Retak meminta maaf lagi kepada Si Pemikul Air.
Si Pemikul Air bertanya, “Apakah tadi kauperhatikan bahwa bunga-bunga yang indah itu hanya tumbuh di sisi yang kaulewati, sedangkan di sisi yang dilewati oleh Gentong Utuh justru gersang?
Gentong Retak mengangguk.
Si Pemikul Air bertanya lagi, ”Kau tahu sebabnya?
Gentong Retak menggeleng.
Itu terjadi karena dari awal aku mengetahui kekuranganmu, tetapi aku memanfaatkannya. Aku menanam biji bunga di sepanjang sisi jalan yang kaulewati. Setiap hari, tanpa sadar, ketika kita berjalan dari sungai sampai rumah Pak Majikan, kau telah menyirami bunga-bunga dengan air yang menetes itu. Hasilnya, selama dua tahun ini aku dapat menghiasi meja makan Pak Majikan dengan bunga-bunga yang indah. Tanpa kau menjadi dirimu sendiri, Pak Majikan tak dapat menikmati keindahan itu dalam rumahnya,” kata Si Pemikul Air.
Ada senyuman di wajah Gentong Retak. Tampaknya dia mulai mengerti.
Hikmah yang dapat kita petik dari cerita di atas adalah kekurangsempurnaan yang melekat pada diri kita adalah sebuah keniscayaan. Kita semua, tanpa kecuali, mempunyai kekurangan. Ya, dapat kita katakan bahwa kita adalah gentong-gentong retak itu. Maka, jangan takut memiliki kekurangan. Akuilah, terimalah, dan kemudian percayalah bahwa dengannya kita justru dapat mencipta keindahan. Bukankah dalam memahami kekurangan kita, sejatinya kita juga menemukan kekuatan kita sendiri?
Semoga kawan saya yang kader pemberdaya, yang merupakan gentong retak seperti juga saya, memahami ini. Semoga.***Febrie G. Setiaputra






Tidak ada komentar:

Posting Komentar