Minggu, 31 Juli 2011

Puasa*


Pukul 14.13 WIB tadi, seorang kawan saya mengirimkan pesan singkat. Isinya: “... Selamat datang dalam penerbangan Ramadhan Air tujuan Bandara Internasional Idul Fitri dengan nomor penerbangan 1432 H ... . Mari tegakkan sandaran kursi iman. Bila terjadi guncangan, pasanglah selalu sabuk zikir, tahajud & sedekah jariah. ... bersama pramugari Rahmah, Maghfirah, dan Jannah. ... Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.
Sejak beberapa hari yang lalu, suasana bulan Ramadhan telah tampak di mana-mana. Salah satunya seperti di awal cerita saya tadi: pesan singkat bertema puasa. Ya, bulan Ramadhan memang dipandang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Simbol dan atribut keislaman hadir di berbagai ranah. Bulan ini kembali menghadirkan kegairahan bagi umat Islam untuk menekuni ibadah ritual. Di bulan ini pula, selain menahan diri dari makan dan minum, banyak orang berlomba melaksanakan karitas.
Bagi saya, ritual adalah sekadar media. Semacam tubuh bagi jiwa. Dalam paparan Abd A’la, seorang guru besar dalam sejarah pemikiran Islam IAIN Sunan Ampel, puasa perlu dimaknai sebagai “ibadah (yang) akan mengantarkan seseorang ke proses pencerahan”. Mestinya, keberibadahan memperkuat spiritualitas, berdampak positif bagi penajaman nurani dan pengembangan sikap perilaku luhur yang bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dan kehidupan.
Puasa dalam bingkai pencerahan seperti itu tentu tak dapat dicapai dengan sekadar menahan diri dari lapar, dahaga, hubungan suami istri, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Puasa harus dimaknai sebagai upaya mewujudkan kemurnian, mewujudkan nilai-nilai Islam, dalam perilaku keseharian. Tak hanya dalam Ramadhan, tetapi juga bulan-bulan setelahnya.
Dalam rangka mempersiapkan hidup pada bulan-bulan setelah Ramadhan itulah, umat Islam harus berlatih keras selama Ramadhan. Mereka harus menghindarkan diri dari segala perilaku tercela: hasut, iri, dengki, manipulatif, dan sebagainya. Mereka harus berupaya muhasabah al-nafs, berrefleksi diri terhadap perilaku selama ini.
Bagi kita yang telah memantapkan diri untuk menggiatkan pemberdayaan sebagai upaya penanggulangan kemiskinan, kita harus terus bertanya dan bertanya ulang: “Sudahkah kita melakukan tugas pokok dan fungsi kita sebagai pemberdaya?”. Sudahkah hati dan perilaku kita murni, lurus, dan selaras dengan keinginan wong cilik? Sudahkah kita mengupayakan ubah tangis rakyat yang papa itu dengan senyuman? Sudahkah ... Ah, rupanya kita masih harus banyak bertanya, masih harus banyak belajar mulat sarira hangrasa wani, belajar berani menggugat diri sendiri.
Selamat menunaikan puasa, Kawan. Semoga shaum pada Ramadhan kali ini menjadikan kita sebagai pribadi yang mulia, bukan saja menurut perhitungan manusia, tetapi juga menurut Beliau Yang Maha Membuat Perhitungan.

Febrie G. Setiaputra
*Tulisan ini terinspirasi oleh artikel Abd A’la, “Tiada Hari Tanpa Berpuasa”, dalam Kompas, edisi 29 Juli 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar