Minggu, 22 April 2018

Jangan Salah, Semua Fiktif Belaka. Juga Tulisan Ini.


Kamis lalu. Pukul 03.00 WIB. Ponsel saya berdering. Saya terima.

Bangun, Abi. Sahur. Abi sahur sama apa?” tanya Mas Dhaya di ujung sana.

Saya agak kaget. Jika saya sedang berada di rumah, ia memang biasa ikut bangun saat saya sahur. Sejak belum genap setahun usianya. Namun, ia jarang bangun sepagi itu, lebih-lebih membangunkan saya, ketika saya tak sedang berada di rumah.

Kemarin lusa, ia melakukan hal serupa. Ia telepon saya. Pagi-pagi. “Bangun, Abi. Katanya mau jalan-jalan,” katanya. “Mas Dhaya agak panas, Abi. Flu. Tapi, nggak apa-apa kok. Insya Allah cepat sembuh.

Saya belum menanggapi. Ia sudah melanjutkan, “Sudah dulu ya, Abi. Boleh dimatikan, Abi? Aku sayang sama Abi.

Telepon ditutup. Singkat. Padat. Seperti mimpi saja.

Senin, 16 April 2018

Mau Sesak-Menyesak dalam Bus Umum?


TELAT 1 jam dari rencana. Ummu Mas Dhaya berencana balik ke Mojokerto kemarin, Minggu, 15 April 2018, sekira pukul 12.00 WIB. Namun, Mas Dhaya masih umek aé. Owel jawané. Apa ya bahasa Indonesianya? Entahlah.

Sehari sebelumnya, Mas Dhaya sudah bilang, “Besok, kalau Mas Dhaya nangis, berarti nggak jadi balik Minggu, ya. Senin pagi saja.” Ummi-nya mencibir. “Hèlèh, pancèn Mas Dhaya berencana balik Senin, kan?

Sabtu malam. Seperti biasa, Mas Dhaya tidur sambil memeluk saya. Lebih erat daripada malam-malam sebelumnya.

Sabtu, 14 April 2018

Maafkan Kedunguan Saya. Itu saja.


THALABUL ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin. Rawāhu Ibnu Mājah,” kata Mas Dhaya. Lancar. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (H.R. Ibnu Majah).

Itu hadis kesembilan yang ia hafal. Saat itu usianya baru 3 tahun. Ia baru nyantri di pondok pesantren di Pungging, Mojokerto. Sekira 7 km dari rumah mertua; tempat kami menumpang tinggal. Sebenarnya, tak jauh dari rumah mertua, lebih kurang 100 m, ada pondok pesantren lain. Lebih lama didirikan. Namun, di antara beberapa pesantren yang kami nilai pas dengan kriteria kami, Mas Dhaya memilih pesantren tempat nyantri-nya sekarang. Jadi ya, sudahlah.

Di pesantren itu, santri usia PAUD, ditarget hafal sekurangnya 60 hadis dan 2 juz al-Quran. Perlu disiplin dan pembiasaan, memang. Namun, karena suasana saat ziyadah dan muraja’ah dibikin santai, berbasis alam, tampaknya santri-santri kecil itu, termasuk Mas Dhaya, tak merasa terbebani.

Rabu, 11 April 2018

Operating System yang Halal


KANGJENG Nabi itu luar biasa. Bahkan dalam hal makan saja, yang tampaknya remeh bagi sebagian orang, beliau contohkan. Nanging nganu yå, kurange awake dhewe kuwi rak ora tau, arang, bahkan ngremehne ngaji bab ngunu kuwi. Padahal, itu dekat dengan keseharian. Dadi yå ora gumun nek suwe-suwe kita ini ndak ada mirip-miripnya dengan Kangjeng Nabi. Lha wong beliau lemah lembut. Alus. Apikan. Romantis. Bahkan terhadap orang yang jahat kepada beliau. Lha awake dhewe? Bukan alim, bukan nabi, bukan rasul, tapi gayane biyuh-biyuh. Kasare ora karuan. Kasar, keras, dan tegas kuwi lak bedå, tå? Jan-jane kita ini umat Kangjeng Nabi atau Abu Lahab sih?

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa madharan, perut, Kangjeng Nabi itu rata dengan dadanya. Six pack ngunulah kirå-kirå. Beliau itu kan rajin puasa dan gemar berolah raga. Bahkan, ada kisah beliau berlomba lari dengan Sayyidah Aisyah r.a..

Minggu, 08 April 2018

Tani


Tani iku, mangan ora nempur wis apik. Åjå diitung-itung. Cobå, buwuhan yå ora perlu tuku beras.1

Saya tersenyum ketika kawan saya, Mas Nastain, bercerita tentang prinsip hidup bertani yang disampaikan oleh buruh taninya itu. Duh, saya lupa menanyakan namanya. Yang saya ingat, buruh tani itu telah membantu mengelola sawah bapak mertuanya sejak beliau masih hidup.

Mas Nastain mengaku baru blajaran bertaniMertuanya meninggalkan sawah cukup luas untuk ia kelola. Mas Nastain sarjana. Sehari-hari, ia sebenarnya adalah Pendamping Desa (PD) P3MD.2 Sebelumnya, ia adalah Fasilitator Kecamatan (FK) PNPM Mandiri Perdesaan. Seangkatan, bahkan sekelas saat pelatihan pratugas, dengan saya. Ia biasa ngaji bareng, terutama, ibu-ibu di desa tentang mengelola keuangan keluarga dan usaha. Ngajari mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Ia tentu berupaya menerapkan ilmu itu untuk diri sendiri. Eh, lha kok malah disalahne karo buruhe.