Senin, 16 Juli 2018

Kuasa Ramalan


SAMPEAN pernah iseng membaca ramalan bintang?

Ya, zodiak. Itu lingkaran khayal di langit yang berpusat di ekliptika. Ada 12 tanda perbintangan, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, dan Pises. Saya berbintang akuarius.

Waktu kecil, saya sering membaca ramalan bintang. Ketika ramalannya jelek, saya jadi deg-degan satu-dua hari. Kadang, saya menemu ramalan yang ajaib bagi saya waktu itu. Misal, “Asmara: pacar bikin Anda marah-marah.” Seingat saya, sampai dengan kelas 2 sekolah dasar, meski sudah mengenal perempuan cantik, saya masih asing dengan istilah pacar. Maka, tentu saya jadi berpikir keras, apakah gerangan pacar itu hingga ia mampu membikin saya marah-marah? Lagi-lagi, saya deg-degan dibuatnya.

Rabu, 11 Juli 2018

Gila


QAIS jadi majenun. Ia terpisah dari Layla. Semua mafhum kecuali raja. Ia penasaran. Secantik apa Layla gerangan hingga Qais tergila-gila dan sungguh-sungguh menggila.

Syahdan, Layla dihadirkan. Raja menilai, “Ternyata kecantikanmu biasa saja.”

“Itu karena,” jawab Layla, “matamu bukan mata Qais.”

Sabtu, 07 Juli 2018

Kematian


KEMATIAN itu dekat. Memahami itu, nyatanya, tak lantas membuat kita gentar dan bersiap. Sebagian orang mungkin telah cukup percaya diri dengan amalnya. Mereka telah berhitung dan meyakini dapat memborong banyak kaveling di surga. Tiap hari, mereka akan ditemani oleh puluhan bidadari molek dan (selalu) perawan. Impian khas kebanyakan lelaki.

Entahlah. Saya selalu berdebar ketika mengingat kematian. Dunia yang sekadar permainan dan tipu daya memang memuakkan. Namun, siapa yang tak gamang menghadapi ketakpastian? Harap-harap (seraya) cemas. Seperti mau menyatakan cinta.

Minggu, 01 Juli 2018

Rupanya, Libur T’lah Usai...


MAS DHAYA terlibat percakapan dengan ummi-nya. Kemarin sore. Saya lèyèhan di lantai. Di sampingnya.

“Besok, kalau aku (me)nangis, pulangnya besoknya lagi . Pagi sekali,” katanya.

“Alasan,” komentar ummi-nya, “terus kamu berencana mau (me)nangis besok?”

Mas Dhaya tertawa. Jawabnya, “Iya. Aku masih kangen sama abi.”

Hèlèh, kamu gêmbèng kåyåk abi-mu,” ejek ummi-nya.

Ia beringsut memeluk saya. Erat. Saya cium rambutnya.

Sabtu, 30 Juni 2018

Surat Terbuka untuk Bu Khofifah


APA kabar, Bu Khofifah?

Senang ya Bu, akhirnya njênêngan dan Mas Emil—saya memanggilnya Mas Emil saja ya, Bu? Biar gayêng. Seperti moto njênêngan saat berkampanye itu lo, guyub kerjåné, gayêng rakyaté—memenangi Pilkada Jawa Timur melalui suara terbanyak. Saya ikut senang meski tak sampai menangis haru seperti njênêngan. Ndak åpå-åpå tå, Bu?

Kalau dipikir-pikir, saya ini termasuk fan njênêngan lo. Buktinya, saya membaca berita-berita tentang njênêngan. Bersumber dari berita-berita itu pula, saya jadi tahu, setidaknya 3 momen terkait jabatan yang membuat njênêngan menangis.