Kamis, 31 Oktober 2019

Tata Krama, Relevankah?





Data Buku
Judul: Tata Krama (Busanané Bangsa Susila)
Penulis: Imam Supardi
Penerbit: Badan Penerbit Panjebar Semangat, Surabaya
Cetakan: VII, Februari 1959
Ukuran: 14 × 19,4 cm
Tebal: 35 hlm.



SEORANG anggota DPR mendadak viral. Saat berdebat dengan mantan menteri yang sudah sepuh, kerap ia memotong pembicaraan, berkata kasar, dan menunjukkan gestur merendahkan. Warganet menilainya tak sopan.

Jumat, 23 Agustus 2019

Sepilihan Cerpen Kompas Penanda 2018




Data Buku
Judul: Doa yang Terapung:
Cerpen Pilihan Kompas 2018
Editor: Herlambang Jaluardi
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan: I, Juli 2019
Ukuran: 14 × 21 cm
Tebal: xviii + 214 hlm.
ISBN: 978-602-412-760-2



“KARYA sastra tak lain adalah sebentuk manifestasi kegelisahan atas realitas.” Begitu kalimat pembuka M. Hilmi Faiq dalam pengantar juri untuk Cerpen Pilihan Kompas 2018: Doa yang Terapung. “Dengan demikian, tidak ada karya sastra yang lahir dari ruang hampa,” lanjutnya.

Rabu, 19 Juni 2019

Dialog Umar Kayam dalam "Dialog"




Data Buku
Judul: Dialog
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Metafor, Jakarta
Cetakan: I, 2005
Ukuran: 14 × 20,8 cm
Tebal: xvi + 344 hlm.
ISBN: 979-3019-25-5



BARANGKALI membaca Dialog dapat menginspirasi kita untuk melihat dan melakoni hidup secara semadyanya. Ora mêthênthêng. Ndak ngegas terus. Kadang, orang memang dituntut maklum.

Dialog adalah kumpulan 38 esai yang ditulis oleh Umar Kayam pada 1968-1999. Semula, esai-esai itu diterbitkan oleh Kompas, KAMI, Matra, Sinar Harapan, Media Indonesia, dan Surabaya Post.

Mikael Johani, penyuntingnya, menyusun esai-sai itu secara tematis. Bukan kronologis.

Senin, 27 Mei 2019

Transit




Data Buku
Judul: Transit (Urban Stories)
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2019
Ukuran: 13,5 × 20 cm
Tebal: vii + 141 hlm.
ISBN: 978-602-0622-52-1




KETIDAKTAHUAN itu menakutkan. Sama seperti kegelapan. Sayangnya, ia ada di mana-mana. Juga di kota.

Transit (Urban Stories), kumpulan 17 cerita pendek Seno Gumira Ajidarma (SGA), menggambarkan itu. Kota boleh jadi dianggap sebagai simbol kemajuan. Keakanan. Keterangbenderangan. Nyatanya, ia punya sederet persoalan.

Selasa, 30 April 2019

Suta Naya (Masih) Dhadhap Waru?




Data Buku
Judul: Suta Naya Dhadhap Waru:
Manusia Jawa dan Tumbuhan
Penulis: Imam Budhi Santosa
Penerbit: Interlude, Yogyakarta
Cetakan: I, 2017
Ukuran: 14 × 21 cm
Tebal: xxx + 478 hlm.
ISBN: 978-602-6250-42-1



HARI TANI NASIONAL, tujuh belas petani Kendeng melakukan aksi di seberang istana negara. Mereka berkeras menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Diberitakan oleh Tirto.id, Gun Retno, perwakilan para petani itu, menyampaikan, “Kami sedulur kalau menang tidak minta tanah, gunung, atau sertifikat. Kami ingin agar lingkungan ini sehat. Angin tetap sejuk, udara bersih, dan sawah bisa ditanami.”

Aksi pada 24 September 2018 itu bukan yang pertama. Sebelumnya, 12 April 2016 dan 13 Maret 2017 misalnya, mereka juga melakukan aksi. Menyemen kaki. Kompas.com mencatat, pada 2017, hari kelima aksi, petani yang ikut menyemen kaki mencapai 50 orang. Mereka meyakini bahwa aksi tersebut merupakan kewajiban petani untuk terus menjaga keseimbangan alam.

Soal Kendeng itu terlintas saat saya membaca buku Iman Budhi Santosa, Suta Naya Dhadhap Waru. Ia menulis, “Sebagai masyarakat agraris sesungguhnya mayoritas orang Jawa memiliki keperdulian (sic!) tinggi terhadap alam lingkungan.” (Hlm. 14)